Indonesia, kalau dilihat maka penuh berisiskan semua potensi positif untuk dapat membangun dirinya hingga sampai menjadi negara maju (developed country ) atau lebih dari itu. Bukan hanya ditinjau dari jumlah penduduknya, tapi juga potensi akan kwalitas, geopolitik serta kekayaan bumi yang ada (baca:tersedia). Boleh dikatakan keberadaan Indonesia merupakan satu keberadaan yang penuh pengecualiaan kalau tidak hendak dikatakan sebagai jarang ada bandingnya.
Kemerdekaan yang konon telah diperjuangkan dengan semangat dan darah telah diyakini sebagai satu titik mulai untuk dapat menuju negara yang mensejahtaerakan rakyatnya. Sekarang telah lebih 60 tahun berlalu, kemerdekaan yang menjadi pemicu perjuangan baru masih menyisakan perjuanan lain. Kemerdekaan yang doeloe diperjuangkan dengan melawan penjajahan colonial Belanda termasuk dengan sekutunya telah menghasilkan kemerdekaan Indoensia, tapi sekarang setelah sekian tahun merdeka, Indonesia kembali di jajah dengan model penjajahan baru.
Penjajahan kali ini tidak dengan nama kolonial atau dengan menduduki posisi pemerintahan dalam negara ini secara langsung. Tapi selain dari itu, semua kriteria penjajahan masih tetap mengikat Indonesia. Bukan tidak disadari oleh bangsa Indonesia, tapi tampaknya sudah merupakan kesepakatan bersama bahwa bangsa ini ingin menikmati suasana terjajah itu lebih lanjut. Walaipun secara aklamasi tidak pernah diucapkan tapi minimal usaha untuk membebaskan diri dan perjuanan yang pernah dicontohkan dulu tidak pernah diusahakan lagi.
Istilah Neo Kolonialisme ataupun tuduhan imperialism dengan timbangan Dependency teory bukan hanya sekedar pembahasan, tapi aplikasi yang ada menunjukkan kesemuanya. Dengan tuduhan “undevelope nation” Indonesia terpaksa harus terus menerima program mordenizing untuk memajukkan dan mengangkatnya dari the Third world. Yang berarti bahwa the First world berhak menjalankan plotnya untuk terus melakukan semua aktifitasnya menguasai negara yang ditetapkannya sebagai negara dunia ketiga itu, di dalamnya Indonesia.
Monopoli dalam semua bidang, mulai dari ekonomi hingga sampai dengan politik, dari pemikiran hingga sampai budaya. Sehingga Indonesia sendiri seolah telah kehlangan indentitasnya. Yang ada mereka tidak lebas dari nilai perbudakan dengan gaji yang kecil, istilah yang lebih diindahkan dengan nama cheap labor. Terpaksa Indoneisa dan Negara sebangsanya harus menerima bahwa semua kerjaan untuk tuan the first world.
Dengan senjata Multi Corporation disemua lahan, mulai dari kemanusiaan, lingkungan dan ekosistem telah memuruk Indonesia kedalam dunia gelap penjajahan (baca neocolonialism). Semuanya dijalankan dengan menggunakan kebaikan NGO (baca:lembaga swadaya masyarakat) yang dipasang oleh negara maju untuk memantau semua aktifitas yang dapat membawmereak lebih dalam dan lebih jauh lagi menusk dan mencungkil kekayaan yang ada di dalam negara ini. Anak anak banga dengan semua keluguannya dan iming iming gaji yang relative cukupan sudah membuat mereka tidak memperhatikan sejauh mana bangsa mereka harus menyerahan semua yang ada….termasuk marwah (harga diri) bangsanya (kalau tersisa).
Semua negara yang berpredikat maju telah menggunakan kesempatan yang terbaiknya untuk mengeduk keuntungan dari Negara ii, yang berate sebaliknya, bahwa bangsa ini terpaksa menyerahakan keuntungannya kepada orang lain dan dirinya sendiri harus menanggung kerugian dari keuntungan yang orang ambil.
Ada beberapa gerakan multi nasional yang seolah hendak melawan colonialism yang baru ini. Tampak di permukaan Pan Asia Africa, NAM (Negara Non Blok) hingga dengan The All-African Peoples' Conference (AAPC) sampai dengan The Organization of Solidarity with the People of Asia, Africa and Latin America (OSPAAAL),. Tapi apa yang ada tidak labih dari permaianan untuk mebuat suasana menjadi float (mengambang), dan bukan untuk melawan imperalisme itu. Perjuangan yang setengah setengah ini tidakmembawa perubahan riil, kecuali hanya berbagai konfrensi menyemarakkan bentuk apa yang diusahakan oleh colonial.
Bukankah tidak ada orang yang faham dengan semua ini, tapi kelihatannya banyak permasalahan yang perlu dibuat sehingga tidak tahu mana yang terpenting diantara yang penting. NGO di Indonesia sekarang sudah seperti jiwa dan darah dalam kehidupan, sehingga antara darah asli dan darah palsu ini tidak ada pemisah lagi, persis seperti orang yang ketagihan, kalau saja harus berhenti dengan dengan keberadaan NGO seolah bangsa ini akan diam dari geraknya (baca: mati). Begitu canggihnya NGO ini bergeak sehingga semuanya akan tampak menguntungkan masyarakat, padahal yang diberikannya adalah gaji sebgai buruh tapi apa yang didapatkan oleh tuan NGO adalah harta kekayaan negara dan bangsa yang lebih dari sekedar itu.
Suasa sekarang menjadi sulit - karena sebagaimana orang yang kecanduan- diperlukan bukan hanya obat tapi juga kesadaran diri bangsa Indonesia sendiri. Karena untuk melepaskan penjajahan ini diperlukan p[erjuanganlagi, diperlukan semua kekuatan yang dapat menghilangkan kekuatan yang menguasai Negara Indonesia ini. Pemerintah Indonesia dengan sadar atau tidak sadar telah dikuasai oleh candu NGO merubah akalnya, sehingga tidak akan dapat bergerak kecuali menetralisir kembali NGO yang merasuk kedalam otak pemerintahan.
Jangan tidak ada yang tahu, betapa kekautan NGO telah berhasil menjadi kekautan massa yang dapat menjadi pengerak demand politik dan ekonomi(ingat-lihat kasus Ambon dan Papua). Juga di dunia pendidikan, bangsa kehilangan alternative karena semuanya cara dan pola telah diambil oleh NGO yang disponsori negara asing, sehingga Indonesia tidak dapat tidak harus menyerahkan putranya untuk dijadikan budak lebih jauh. Karena salah satu dari konsekwensi dari itu adalah menjadikan sistim yang diingin oleh colonial agar dapat menguasai semua peringkat kehidupan di negara ini.
Dalam idiologi beragama, tidak lebih dari itu. Dengan masuknya berbagai NGO tersebut maka tidak ada satu idiologipun yang selamat dari pada intervensi mereka. Sehingga tidak ada yang prinsip yang harus dipertahankan lagi, karena semuanya telah dimentahkan dengan berbagai cara. Kesatuan muslimin telah hancur ketika masuknya NGO kedalam urat saraf pertahanan muslimin di Indonesia sehingga dua organisasi besar haus menyerahkan putra terbaiknya ketangan penjajah dan pembunuh saudara saudara di Palestina. Pemimpinya dengan sedikit penghargaan dan imbalan yang tidak akan membawa dia menjadi manusia yang lebih layak dengan harga dirinya, telah bersedia menjadi pejuang Israel untuk melawan saudaranya yang hingga kini tanah dirampas, mereka terbuang dan istri dan anak anak mereka dibunuh. NGO ini telah berhasil merubah pola berfikir pemimpin organisasi Islam ini, dan tidak mustahil kepada sebahagian yang lain.
Betapa banyak Indonesia kehilangan dan kerugaian atas penjajahan ini. Tidak terhingga. Maka tidak ada jalan lain kecuali mawas diri dan kembali berjuang dibidangnya masing masing untuk melihat lebih dalam lagi atas keperluan bangsanya dan meninggalkan hanya sekedar keuntungan diri sendiri. Pesan ini memang klasik tapi inilah obatnya. Memang jalan yang harus ditepuh menang tidak banyak, seperti semboyan yang lantunkan pejuang bangsa Indonesia ketika melawan Belanda penjajah:” Berjuan atau Mati” atau oleh para pejuang Islam sekarang :”Jihad atau Syahadah”, karena inilah jalan yang tertinggal. Kalau tidak gurita gerakan NON pemerintah ini akan selalu memerintah negara dan bangsa kita, Indonesia. [IM/R]
Views: 131
Komentar (2)
Beri Komentar
ATURAN DISKUSI
Perlu diketahui bahwa, redaksi tidak bertanggung jawab atas komentar yang masuk
Usahakan komentar tidak keluar dari topik artikel.
Semua komentar yang masuk ke meja redaksi akan diseleksi.
Komentar yang membangun dan tidak menghasut akan mendapat respon besar dari redaksi
Setiap komentar bisa dikomentari secara timbal balik
SELAMAT BERDISKUSI
ISLAM MUHAMMADI_IM ISLAM MUHAMMADI - All right reserved 2008. AKOCOMMENT
Soal: Apakah madzhab-madzhab semisal Ja’fari, Zaidi, dan Ibadhi, termasuk masuk dalam kategori aliran Islam? Apa hukumnya menerima madzhab-madzhab seperti itu?
Secara singkat, Islam adalah pengucapan dua kalimat syahadat dan meyakini serta menjalankan keniscayaan dari keyakinan yang disebutkan dalam al-Quran al-Karim. Siapa saja yang mengucapkan dua kalimat syahadat dan konsekwen dengan ajarannya, berarti ia dihukumi sebagai muslim dan berhak atas hak-hak sebagai orang Islam.
Firman Allah yang menyebutkan, bahwa Dia tidak membeda-bedakan diantara rasul utusan-Nya merupakan bukti, bahwa Al Quran memberikan penghormatan yang sama pada setiap agama dan nabi.
Istri mantan Perdana Menteri Lebanon Rafik Hariri yang tewas dalam insiden terror beberapa tahun lalu, lewat suratnya kepada Sekjen Hezbollah Lebanon Sayid Hassan Nasrollah menyampaikan pujian dan penghargaannya kepada Moqawamah atas kemenangan yang diraih dalam proses pertukaran tawanan dengan rezim Zionis Israel baru-baru ini.
Dalal yang lahir tahun 1958 di kota Yafa Pelastina menguasai bahasai Ibrani sebagus bahasa Arab. Keberanian dan tekadnya yang membaja sudah bukan rahasia lagi di tengah para pejuang. Hari Rabu 16 Juli 2008, ketika peti-peti jenazah diserahkan oleh Palang Merah Internasional kepada Hezbollah, media massa dunia memberitakan bahwa pada salah satu peti itu tertulis nama Dalal Al-Moghrabi. Mendengar pemberitaan itu, kebanyakan warga Palestina tak mampu menahan diri dan larut dalam tangisan.
Kehadiran Sekjen Hebzollah Lebanon Sayid Hassan Nasrollah secara mengejutkan dalam acara perayaan pembebasan lima tawanan Lebanon dari penjara rezim zionis Israel membuat para pejabat Israel geram. Akibatnya, rezim ini kembali berpikir untuk meneror pimpinan Hezbollah yang menjadi simbol kepahlawanan di dunia Arab dan Islam itu.
Soal: Mengingat adanya banyak dalil yang mewajibkan persatuan umat Islam, apa pandangan Ayatollah mengenai istilah-istilah umat Islam, apakah istilah ini mencakup para pemeluk berbagai madzhab dalam Islam baik dari empat madzhab Ahlusunnah wal jamaah maupun
Soal: Apakah setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, melaksanakan shalat menghadap kiblat dan mengikuti salah satu dari delapan madzhab yang ada (Hanafi, Syafi’i, Maliki, Hanbali, Ja’fari, Zaidi, Ibadhi dan Dhahiri) dianggap sebagai muslim sehingga darah, kehormatan dan hartanya harus dijaga?
Dalam laporan ini Urhon Behesyti, anggota Yayasan Ats tsaqalain, Belanda dan mantan dosen di Universitas Routerdam, Hojjatul Islam Sayyid Dzahirul Hasan Naqawiy, Imam Mesjid Pusat Kajian Islam dan Mesjid Ar Rasul, San Khozeh, Amerika.
Sekali lagi konspirasi Amerika dan Israel muncul melalui tangan-tangan kotor setan media Zionis Denmark yang menghina dan melecehkan kesucian Nabi Muhammad saw. Sungguh hal ini bukanlah sesuatu yang kebetulan dan simsalabim, namun sebuah proyek yang terencana oleh musuh-musuh Islam dan pejuang aparteit dalam rangka memadamkan cahaya Islam.