|
TAQLID Taqlid dalam istilah ilmu fiqih berarti: Beramal dengan bersandarkan pada fatwa seorang mujtahid yang memiliki syarat-syarat untuk dapat diikuti darinya (marja’ wăjidu syarăit). Mengapa kita harus bertaqlid ? A. Secara fitrah manusia terdorong untuk berusaha menuju kepada kebahagiaan dan cinta yang murni dan abadi, yang tidak akan tergapai kecuali setelah mencapai kesempurnaan yang mutlaq. B. Manusia tidak dapat sampai pada hal itu, kecuali dengan patuh kepada Allah SWT sebagai wujud yang memiliki eksistensi segala kesempurnaan yang mutlaq. C. Taat dan patuh kepada Allah SWT tidak akan didapat, kecuali setelah mengetahui taklif (tugas) dan menjalin hubungan kedekatan diri denganNya. D. Taklif itu pada mulanya dapat diketahui dari Nabi besar Islam saww sebagai pemimpin dan pelindung pertama Islam dan masyarakatnya secara langsung, kemudian setelah wafat beliau saww tugas kepemimpinan agama dan ummat Islam berada dipundak para Imam suci Ahlul Baitnya AS, dan pada masa keghaiban Imam suci as, maka pengemban tugas kepemimpinan Agama dan ummat Islam berada dipundak para fuqaha’ yang memiliki syarat-syarat marja’iat. Ada beberapa poin penting berkenaan dengan masalah Taqlid dan Marja’iat yaitu : 1-Taqlid dalam ahkam tidak dikhususkan mengenai hukum taklifi yang wajib dan haram saja, tetapi dalam perkara mustahabăt, makruhăt dan mubăhăt juga berlaku sebagai perkara yang diikuti / ditaqlidi. 2-Bagi setiap mukalaf yang tidak sampai pada derajat ijtihad atau tidak mengetahui cara ihthiat (berlaku hati-hati dalam menerapkan hukum) maka wajib baginya untuk bertaqlid kepada seorang mujtahid dalam menunaikan tugas syar’i-nya. 3-Seorang Mujtahid yang diikuti fatwa dan pandangannya oleh orang lain disebut Marja’ Taqlid. 4-Seorang Marja’ Taqlid harus memiliki syarat-syarat berikut ini: (i) Mujtahid (ii) Baligh. (iii) Lelaki (iv) Beraqal. (v) Anak halal ( hasil pernikahan syar’i ). (vi) Berdasarkan ihthiat wajib hendaknya lebih berilmu (a'lam) dari semua mujtahid dizamannya dan tidak tamak pada dunia. (vii) Adil. (viii) Hidup. (ix) Syiah duabelas Imam (as). 5-Adil yang dimaksud sebagai syarat marja’iat adalah memiliki kemampuan mengadili; artinya keadilan baginya sebagai satu kondisi jiwa yang memotori untuk senantiasa berada dalam ketakwaan dan menjaganya untuk tidak melakukan dosa besar dan kecil. 6-A'lam yang dimaksud adalah orang yang lebih baik pengenalannya terhadap kaidah dan dalil-dalil masalah fiqih serta mempunyai maklumat yang banyak tentang berbagai pandangan dan berita tentang masalah-masalah itu, demikian juga ia lebih baik kefahamannya tentang teks-teks nash (Ayat dan riwayat), ringkasnya Seorang mujtahid yang A’lam adalah pribadi yang mempunyai kemahiran lebih dari yang lain dalam mengistimbatkan hukum. 7-Tidak boleh memulai bertaqlid kepada mujtahid yang telah meninggal dunia; artinya seorang yang baru mencapai status mukalaf atau seorang mukalaf yang selama ini belum pernah bertaklid lalu sekarang ia hendak memulai bertaqlid maka tidak boleh memulai bertaqlid kepada mujtahid yang telah wafat, artinya wajib memulai bertaqlid kepada mujtahid yang masih hidup. 8-Tidak ada masalah mengekalkan bertaqlid kepada mujtahid yang telah wafat, artinya seorang yang telah beramal berdasarkan sebagian dari fatwa seorang mujtahid dimasa hidupnya maka boleh mengekalkan bertaqlid kepadanya ketika mujtahid itu telah meninggal dunia, sekalipun mengenai fatwanya dalam masalah lain yang tidak pernah diamalkannya ketika mujtahidnya hidup. Contoh ; Seorang muqalid dari seorang mujtahid belum pernah pergi Haji di zaman hidupnya sang mujtahid, kemudian setelah mujtahidnya wafat barulah dia dapat naik Haji, maka sang muqalid boleh mengamalkan manasik Haji menurut fatwa mujtahidnya yang telah wafat itu. 9-Mengekalkan bertaqlid kepada mayat wajib dengan perizinan mujtahid yang hidup ; artinya ketika mujtahid hidup mengeluarkan fatwa yang memperbolehkan mengekalkan bertaqlid kepada mujtahid yang sudah wafat, maka muqolid boleh mengekalkan pentaqlidannya kepada mujtahidnya yang telah wafat. 10-Bagi Muqolid yang mengekalkan pentaqlidannya kepada mujtahid yang sudah wafat, wajib bertaqlid kepada mujtahid yang hidup dalam masalah–masalah yang tidak dikeluarkan fatwa oleh mujtahid yang sudah wafat, demikian juga terhadap masalah-masalah baru, wajib bertaqlid kepada mujtahid yang hidup. 11-JALAN UNTUK MENGENAL DAN MENENTUKAN SEORANG MUJTAHID WĂJIDU-SYARĂ’IT DAN A’LAMIAH-NYA MARJA’ TAQLID : (i). Menjalankan pengujian dan pengenalan secara pribadi, tentunya jalan ini menuntut pribadi penguji haruslah sebagai ahli ilmu dan mampu mendeteksi kemujtahidan dan kea’laman seseorang. (ii). Kemasyhuran dan keterkenalan seseorang memberi manfaat dalam menghasilkan ilmu-pengenalan terhadapnya artinya kemasyhuran dan keterkenalan seseorang dikalangan para ahli ilmu sedemikian rupa hingga menyebabkan kemujtahidan dan a’lamiahnya dapat dikenal. (iii). Pengakuan dua orang adil dari ahli khibrah*, dengan syarat; pengakuan keduanya tidak bertentangan dengan pengakuan dua orang alim adil yang lain. 12-Wajib bagi mukalaf untuk mengenal mujtahid yang a’lam dengan mengadakan pencarian dan pedeteksian. 13- Jika dua atau beberapa mujtahid memiliki derajat ilmu yang sama, maka seorang mukalaf mempunyai kebebasan dalam menentukan salah seorang dari mereka untuk menjadi marja’ taqlid baginya. Dan dia juga boleh bertaqlid dalam sebagian masalah kepada salah seorang dari mereka dan sebagian lagi kepada yang lain. 14-Jika ada dua mujtahid A’lam, masing-masing dari keduanya A’lam dalam sebagian masalah ahkam ; contoh seorang mujtahid A’lam dalam ahkam ibadat dan seorang lagi A’lam dalam muamalăt, maka mukalaf berdasarkan ihthiat wajib mestilah bertaqlid pada setiap bahagian yang dimiliki A’lamiat oleh masing-masing keduanya. 15-Pengembalian pentaqlidan dari satu mujtahid ke mujtahid lain dalam istilah ahkam disebut Udul (atau berganti taklid dari satu mujtahid kepada mujtahid lain). - Udul dari mujtahid bukan A'lam kepada mujtahid A'lam, wajib hukumnya berdasarkan ikhthiat. - Udul dari seorang mujtahid kepada mujtahid lain yang sama posisi keilmuan dan wara’nya tidak diperbolehkan jika sedang beramal dengan fatwa salah seorang dari kedua mujtahid itu. - Udul dari A'lam kepada tidak A'lam, tidak diperbolehkan. - Udul dari mujtahid yang sudah lama ditaqlidi kepadanya dan sekarang diketahui tidak berkelayakan lagi untuk berfatwa, hukumnya wajib. - Udul dari mujtahid yang hilang salah satu syarat marja’iatnya, seperti karena gila atau lupa, kepada mujtahid Jămîu’syară’it atau yang memiliki semua syarat-syarat marja’iat, hukumnya wajib. - Udul dari mujtahid yang sedang ditaqlidi dan sekarang meninggal dunia, kepada mujtahid yang hidup, hukumnya boleh bahkan ihthiat mustahab. - Udul dari mujtahid yang masih hidup kepada mujtahid yang telah wafat, berdasarkan ihthiat wajib tidak diperbolehkan, sekalipun mukalaf pernah bertaqlid kepada marja’ yang telah wafat itu dan setelah kematiannya sang mukalaf berpindah bertaqlid kepada mujtahid yang masih hidup (lalu ia kembali kepada marja’ yang sudah wafat, tidak diperbolehkan berdasarkan ihthiat wajib) . 16-CARA MENDAPATKAN FATWA MUJTAHID : -Mendengar langsung dari mujtahid sendiri. -Mendengar dari dua atau satu orang lain yang adil. -Mendengar dari satu orang yang bisa dianggap meyakinkan. -Membaca kitab risalah mujtahid yang tidak ada kesalahan. 17-BEBERAPA MASALAH YANG PERLU JUGA UNTUK DIPERHATIKAN: 1-Mempelajari masalah-masalah yang meragukan dan tidak jelas atau sahwan yang pada kebiasaannya diperlukan oleh mukalaf Adalah wajib kecuali pada tempat-tempat yang diyakini tidak timbul masalah baginya. 2-Jika dua orang dalam menyampaikan fatwa seorang mujtahid saling berlawanan, maka kata-kata keduanya tidak dapat diterima. 3-Jika apa yang tertulis dalam risalah mujtahid dengan apa yang disampaikan oleh orang lain tidak ada kesamaan; seandainya dalam kitab risalah amaliat mujtahid tidak ada kesalahan, maka apa yang ada dalam kitab risalah itulah yang mu'tabar/berlaku, kecuali jika dikatakan bahwa mujtahid telah merubah pandangan yang ada dalam risalah itu. 4-Jika suatu masalah yang ada dalam satu kitab risalah mujtahid mempunyai perbedaan dengan kitab risalahnya yang lain maka harus didahulukan kitab risalah yang ditulis terbaru oleh mujtahid; Seperti perkara-perkara yang terjadi perbedaan dalam kitab Tahrirul-wasilah dengan kitab risalah Taudhihul- Masă’il milik Imam Khumaini (qs), maka apa yang tertulis dalam kitab Tahrirul-wasilah yang mesti didahulukan. 5-Jika penjawab/pengajar soal-soal ahkam mengalami kesalahan dalam menerangkan fatwa seorang mujtahid maka wajib menyampaikan informasih kesalahan dan perbaikannya kepada orang-orang yang telah mendengar pelajaran itu darinya. 6-Jika seseorang memberitahukan orang lain tentang fatwa seorang mujtahid, kemudian fatwa mujtahid dalam masalah itu telah mengalami perubahan, maka tidak wajib bagi orang itu menyampaikan informasi tentang fatwa yang sudah berubah itu kepada orang yang telah mendengar masalah itu darinya, sekalipun berdasarkan ihthiat mustahab hendaknya ia menyampaikannya.[IM/IS] *(yaitu orang–orang yang mempunyai kelayakan ilmu untuk menentukan kemujtahidan dan a'lamiat seseorang). Views: 135
|
- ATURAN DISKUSI
- Perlu diketahui bahwa, redaksi tidak bertanggung jawab atas komentar yang masuk
- Usahakan komentar tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang masuk ke meja redaksi akan diseleksi.
- Komentar yang membangun dan tidak menghasut akan mendapat respon besar dari redaksi
- Setiap komentar bisa dikomentari secara timbal balik
- SELAMAT BERDISKUSI
|
ISLAM MUHAMMADI_IM ISLAM MUHAMMADI - All right reserved 2008. AKOCOMMENT |