Pendidikan Anak 46

 

Jangan Mempersulit Anak

Ketika Mu’adz bin Jabal hendak berdakwah ke negeri Yaman, Rasulullah Saw berpesan kepadanya sambil bersabda : “Yassir Wala Tu’assir….” (Permudahlah dan jangankamu mempersulit). Maksud Rasulullah Saw dengan sabdanya itu adalah bahawa dalam berdakwah dan menyampaikan ajaran Islam yang agung kepada masyarakat harus dengan cara yang paling mudah dan sederhana dan disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka kerana jika ajaran Islam yang agung dan indah itu disampaikan dengan cara yang sulit dan rumit, maka hal itu akan menyebabkan mereka lari dan menghindari agama Islam.

Demikian pula dengan masalah pendidikan anak-anak, baik yang masih di bawah usia tujuh tahun maupun yang telah berusia diatas tujuh tahun. Para guru, pendidik dan orang tua haruslah mempermudahkan anak-anak mereka dalam masalah pendidikan dan pengajaran. Hal ini merupakan sirah dan perilaku Rasulullah Saw, para maksumin As dan para sahabat mulia beliau.

Para ulama Islam disepanjang sejarah telah mengikuti jejak Rasulullah Saw dan para maksumin As dalam memberikan kemudahan dalam mendidik anak-anak dan murid-murid mereka.

Para guru, pendidik dan orang tua jangan sekali-kali mempersulit anak-anak mereka dalam pedidikan dan pengajaran, kerana hal itu akan menjadikan mereka terbebani yang mengakibatkan mereka malas dan tidak ingin lagi mengikuti bimbingan dan pelajaran yang akan disampaikan kepada mereka.

Imam Ja’far as-Sadiq as bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt telah menjadikan segala kebaikan itu di dalam kemudahan”.

Para guru, pendidik dan orang tua harus memahami bahawa anak-anak yang berusia di bawah tujuh tahun itu banyak bertanya tentang berbagai macam persoalan. Jangan sampai guru, pendidik dan orang tua merasa dan menampakkan kejenuhan atau kebencian terhadap sikap mereka yang banyak bertanya itu. Terkadang juga guru atau orang tua merasa bingung untuk menjawab pertanyaan mereka. Misalnya mereka bertanya: Bu, Tuhan itu dimana? Biasaya si ibu menjawab bahawa: Tuhan itu berada di semua tempat. Dan anak itu bertanya lagi: Kenapa aku tidak melihatnya Bu? Disini si ibu harus menyiapkan jawabannya dengan sebaik-baiknya.

Para guru, pendidik dan orang tua harus rajin membaca buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan agar dapat menjawab pertanyaan anak-anak yang bermacam-macam, terutama buku-buku yang berkaitan dengan masalah akidah dan keyakinan kerana jika pertanyaan mereka itu sering kali diputus atau tidak diberikan jawaban ataupun mereka tidak merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh guru atau orang tuanya, maka hal itu akan mennyekat perkembangan pemikiran mereka bahkan boleh jadi akan menurunkan kecerdasan mereka. Oleh kerana itu guru dan orang tua jangan merasa takut dalam menghadapi anak-anak yang banyak dan sering bertanya tentang berbagai persoalan yang mereka lihat dan dengar. Rasa ingin tahu anak-anak pada usia seperti itu memang sangat tinggi sekali. Oleh itu, tugas guru dan orang tua adalah membimbing, mengarahkan dan melayani mereka dengan penuh kasih sayang. Dan jangan lupa pula untuk sering-sering memberikan pujian kepada anak-anak yang sering bertanya. Dan pada sutu ketika, si guru atau orang tua pun bertanya kembali tentang apa yang pernah mereka tanyakan. Hal itu utuk mengetahui sejauh ana daya cerap dan daya rakam otak mereka. Mintalah agar mereka menjelaskan kembali apa yang pernah guru atau ibu terangkan.

Masalah lainnya terkait dengan kaedah pendidikan anak-anak adalah bagaimana caranya guru dan orang tua berbicara dengan anak-anak yang masih berusia di bawah tujuh tahun dan juga dengan anak-anak yang berusia di atas tujuh tahun?

Ada beberapa ayat dan riwayat yang menjadi dasar bimbingan bagi guru dan orang tua untuk berbicara dengan anak-anak. Dalam hal ini gaya, nada dan pola bicara guru dan orang tua harus memperhatikan empat kaieah, baik utuk anak-anak yang berusia di bawah tujuh tahun maupun yang berusia di atas tujuh tahun.

1. Guru atau orang tua hendaklah memperhatikan waktu berbicara kepada mereka. Fikirkanlah terlebih dahulu tentang apa yang akan disampaikan dan dibicarakan. Apakah jika guru atau orang tua berbicara tentang “masalah ini” sudah waktunya untuk anak-anak seusia mereka ataukah belum?
2.Kadar dan ukuran ucapan.
3.Bentuk ucapan. Terkadang guru atau orang tua harus berbicara dengan lembut dan terkadang dengan nada agak keras.
4.Pentingnya berbicara.

Jadi, empat hal diatas itu harus betul-betul diperhatikan oleh setiap guru dan orang tua ketika ingin berbicara dan menyampaikan suatu masalah kepada anak-anaknya.
Tentu saja nada dan gaya berbicara guru dan orang tua dengan anak lelaki berbeza dengan anak wanita. Walaupun dengan keduanya tidak boleh sama sekali dengan nada keras, marah dan emosi, tetapi dengan anak-anak wanita harus lebih lembut lagi sesuai dengan kudrat kewanitaan mereka. Anak wanita merupakan cahaya maknawi bagi ayahnya, kerana itu harus lebih banyak diperhatikan .
Terkait dengan anak wanita Rasulullah Saw bersabda : Tidak ada sebuah rumah pun yang di dalamnya ada anak wanita melainkan setiap hari ada dua belas keberkahan akan turun dari langit dan kunjungan para malaikat pun tidak terputus ke rumah terebut. Dan orang tua anak_anak wanita itu setiap malam dan siang hari akan mendapat pahala ibadah setahun. (Jami akhbar hadis ke 765).

lainnya yang juga sangat penting dan berpengaruh dalam perkembangan anak-anak, baik secara fizik maupun mental mereka, adalah masalah makanan.

Terkait dengan masalah makanan halal, Rasulullah Saw bersabda: “Ketika malam mikraj Allah Swt berkata kepadaku : Wahai Ahmad, ibadah itu ada sepuluh bahagian yang sembilan bahagiannya adalah mencari makanan halal.

Kemudian masalah kehamilan, atau satu hal yang berkaitan dengan turunnya sperma pada hari pertama. Tahukan kita apa yang dilakukan malaikat terhadap sperma itu? Malaikat menanyakan tiga pertanyaan kepada Allah: Apakah anak itu akan bahagia ataukah akan celaka?

Terdapat sebuah riwayat dari Imam Ja’far as-Shadiq As, beliau berkata kepada Mufaddal bahawa yang pertama kali terjadi pada janin adalah takdir dan ketentuan-ketentuannya kerana itu, orang tua dan khususnya ibu, harus banyak berdoa pada saat itu; agar anaknya selamat dan menjadi anak yang saleh. (Bihar al-Majlisi jilid 60 hal 377 hadis ke 98).

Mengenai zikir kalimah tauhid yaitu Lailaha Illallah, Rasulullah Saw pernah menyuruh umatnya : Ketika anak itu telah mencapai usia tiga tahun, maka bacakanlah kalimah tauhid Lailaha Illahllah tiga kali. Kemudian nanti pada kesempatan lainnya, bacakanlah kalimah Muhammadur Rasulullah.

Ada juga riwayat lainnya di dalam kitab Syu’abul Iman yang ditulis oleh Imam Baihaqi jilid 6 hal 398 hadis 8649, Rasulullah Saw bersabda :

افتحوا علی صبیانکم اول کلمة : لا إله إلاالله

Yakni ketika seoarang anak sudah mulai berbicara, maka ucapkanlah kalimah tauhid Lailaha Illallah. Jadi berdasarkan riwayat ini, kalimah tauid itu diucapkan kepada anak sebelum ia berusia tiga tahun.
Berkaitan dengan pendidikan anak, di lain hadis Rasulullah Saw bersabda:

أدبوا أولادکم علی حب علی بن ابی طالب وحب اهل بیتی و القران

Didiklah anak-anakmu agar mencintai Ali bin Abi Thalib, mencintai Ahli baitku dan mencintai al-Qur’an kerana itu hal ini harus menjadi fokus pedidikan dan pengajaran bagi anak-anak kita.

Untuk anak puteri yang masih berusia dibawah tujuh tahun boleh juga dengan jalan memberikannya sebuah boneka. Misalnya ibu berkata kepada boneka tersebut: Anakku sayang, mama ingin membuatkan sebuah cadur untukmu, mau kan? Ibu boleh juga mengatakan kepada puterinya itu: Anakku sayang, mama mahu memasak makanan untuk boneka ini yah? tapi nanti ketika dia makan harus mengucapkan bismillah yah…? Ketika masuk waktu solat, si ibu juga bosa mengatakan: Bonekanya diajak solat yah..? Jadi melalui bonekanya seorang ibu harus dapat memberikan pendidikan dan pelajaran yang baik.

Masalah lainnya yang sangat penting dan harus kita fahami dengan baik adalah masalah ruh atau jiwa. Psikologi Barat tidak pernah memasuki pembahasan ruh, kerana mereka tidak mempunyai kemampuan. Ruh atau jiwa merupakan inti manusia. Dengan kata lain bahawa manusia itu terdiri dari dua unsur yang satu sama lain sangat berjauhan, iaitu unsur jasmani yang bersifat materi dan unsur ruhani yang bersifat non materi.

Para guru, pendidik dan orang tua harus betul-betul memahami masalah jiwa anak-anaknya jika ingin mereka itu berhasil dengan baik di masa mendatang kerana ruh atau jiwa itu berkembang seiring dengan perkembangan jasmani anak-anak. Sebagaimana fizik anak-anak memerlukan makanan, minuman, buah-buahan dan sayur yang baik dan menyehatkan tubuh mereka, maka begitu pula ruh dan jiwa mereka memerlukan makanan maknawi seperti ilmu, fikiran, wawasan, ibadah dan lainnya yang sesuai dan yang baik pula. Terkait dengan upaya mengembangkan ruh, maka sebahagian masyarakat di negara Asia seperti Cina, India, Jepun dan lainya, mereka yang beragama Konghucu, Hindu dan Buddha mengamalkan riyadah, iaitu semacam Yoga untuk meningkatkan nafs atau ruh mereka. Tetapi sebenarnya yang mereka tingkatkan itu bukanlah ruh. Mereka melakukan berbagai macam aktiviti dan gerakan-gerakan yang aneh, agar jiwa mereka itu dapat menguasai badannya. Dengan cara itu mereka ingin memperoleh ketenanangan dan kedamaian.

Lalu bagaimana dengan bimbingan ajaran islam mengenai pengembangan jiwa anak-anak. Islam mengajarkan agar guru dan orang tua mendalami akidah sebaik-baiknya, lalu mengajarkannya kepada anak-anak mereka dengan cara yang mudah dan dapat menarik perhatian mereka. Setelah itu memberikan bimbingan ibadah dari mulai solat, puasa dan seterusnya.

Masalah lainnya yang juga perlu disentuh adalah berkaitan dengan hubungan suami isteri. Banyak sekali adab-adab dalam berhubungan suami isteri yang harus diperhatikan oleh orang tua, agar anak-anaknya menjadi anak-anak yang saleh dan mentaati Allah, Rasul dan Ahlul baitnya serta tidak menentang kedua orang tuanya.

Diantara adab berhubungan dengan isteri ada sebuah pertanyaan: Apakah ketika melakukan hubungan suami isteri itu boleh menghadap kiblat? Jawabnya adalah bahawa hal ini dimakruhkan. Imam Khomeini Ra juga di dalm kitabnya Tahrirul Wasilah telah menjelaskannya, iaitu hukumnya makruh. Begiitu juga dengan al-marhum al-Majlisi, beliau di dalam kitabnya Hilyatul Mutaqin halaman 101 menjelaskan bahawa hal itu hukumnya makruh.

Dalam masalah berhubungan suami isteri dan melahirkan anak, Imam Ali as menganjurkan agar kita banyak-banyak membaca doa dan solat, agar anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang baik dan saleh . Berhubungan suami isteri untuk tujuan memperoleh anak dan keturunan, harus lebih berhati-hati lagi. Ertinya harus memperhatikan waktu-waktu yang disunatkan dan dianjurkan serta membaca doa-doa yang dianjurkan pula. Berbeza dengan hubungan suami isteri yang tidak bertujuan mempunyai anak.

Selanjutnya berkaitan dengan memberi nama anak. Diantara kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya adalah memberi nama mereka dengan nama-nama yang baik kerana hal itu akan dimintakan tanggung jawab kelak di hari Kiamat.

Ketika orang tua memberi nama anaknya dengan nama Sajjad misalnya, maka hendaknya orang tuanya memberi khabar kepada anaknya : Wahai anakku, namamu adalah Sajjad. Oleh kerana itu, kamu harus mengenal imam Sajjad. Tahukah kamu siapakah Imam Sajjad itu? Hendaknya si ibu menceritakan riwayat Imam Sajjad yang sesuai dengan usia anaknya.

Orang tua yang memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama manusia suci, seperti Husein, Ali dan lain-lain. Orang tua dan terutama ibu harus memperhatikan anak-anaknya sebelum mereka pergi tidur. Jangan sampai ketika mereka tidur sementara tangan dan mukanya masih berminyak kerana hal itu akan mengundang datangnya jin kepada mereka yang akan mengganggunya ketika mereka tidur dan hal itu berakibat tidak baik dalam perkembangan jiwanya. Si ibu perlu memperhatikan kebersihan fizikal anak-anak sebelum mereka pergi ke tempat tidur masing-masing. Begitu pula dengan kebersihan bilik dan tempat tidur mereka kerana hal itu mempunyai pengaruh terhadap ketenangan mereka ketika tidur.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *