Pendidikan Anak 44

Mencari Teladan Yang Baik Untuk Anak

Salah satu pertanyaan penting terkait dengan pendidikan anak-anak di bawah usia tujuh tahun adalah: Bagaimanakah cara seorang guru dan orang tua memberikan contoh dan teladan yang baik kepada anak-anaknya?
Perlu diketahui oleh para guru, pendidik anak-anak dan orang tua bahawa anak-anak pada usia dibawah tujuh tahun sangat memerlukan teladan dan contoh yang nyata seperti kaca cermin yang ada di hadapan mata mereka.
Pernah pada suatu hari Sayidah Fatimah Az-Zahra Sa membacakan sebuah syair kepada puteranya al-Hasan As. Setelah selesai membacakan syair, beliau berkata kepada anakandanya:
“Wahai anakku, kamu mirip sekali dengan ayahmu”. Dari peristiwa ini beliau Sa ingin memberikan pelajaran kepada kita tentang beberapa poin penting:

1.Untuk memindahkan pengetahuan pada anak-anak, seorang guru atau orang tua dapat menggunakan syair.
2.Anak-anak pada usia dibawah tujuh tahun harus mempunyai teladan yang jelas di depan matanya, yakni contoh dan teladan yang dapat dia saksikan langsung, bukan teladan yang tidak ia lihat atau tidak ia jangkau.
3. Beliau Sa mengatakan kepada anaknya bahawa : Kamu mirip dengan ayahmu. Erti dan maksud ungkapan beliau Sa adalah bahawa ayahmu itu sebagai teladan bagimu.

Ketika seorang ayah betul-betul menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya dalam kehidupan seharian, dalam perkataan, dalam perbuatan, dalam sikap dan tingkah laku, dalam ibadah dan lainnya, maka seorang ibu harus mengatakan kepada anaknya yang lelaki bahawa :

Ayahmu itu merupakan contoh dan tauladan bagimu kerana itu, taatilah ayahmu, tiru dan ikutilah perbuatan dan sikapnya itu.

Ketika adab, sopan santun dan tingkah laku seorang ibu betul-betul menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya, maka seorang ayah harus mengatakan kepada puterinya bahawa ibumu merupakan contoh dan teladan yang baik bagimu, kerana itu ikutilah jejak ibumu itu.

Apabila kita meneliti perlunya memberikan teladan pada anak-anak dan juga pada yang lain dari Al-Qur’an al-Karim, maka akan kita temukan bahawa hal itu bersumber dari Al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 21. Ayat itu berbunyi:
لَقَدْ كانَ لَكُمْ في رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللهَ وَ الْيَوْمَ الْ خِْْرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثير ا
Ertinya: “Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu, iaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Di dalam ayat tersebut Nabi Saw diperkenalkan kepada umatnya sebagai teladan. Yakni bahawa kaca cermin di depan mata umat Islam adalah Nabi kita Saw. Umat Islam, dalam hal apapun harus mencontoh dan mengikuti beliau Saw.

Barangkali ada yang bertanya begini: Rasulullah Saw itu menjadi contoh dan teladan yang nyata dan sebagai cermin hanya untuk kaum muslimin yang hidup sezaman dengan mereka. Sedangkan pada masa sekarang ini kita sudah sangat jauh dari Rasulullah Saw. Jadi siapakah contoh dan teladan yang nyata buat kita pada masa sekarang?

Jawabannya dapat kita temukan dari beberapa hadis dan riwayat, diantaranya adalah melalui hadis Tsaqalain, iaitu hadis tentang Al-Qur’an dan ‘Ithrah atau keluarga Nabi Saw. Ringkasnya adalah bahawa sepeninggal Rasulullah Saw, maka orang-orang yang menjadi contoh dan teladan bagi kaum muslimin adalah keluarga suci dari keturunan beliau, yaitu para Imam maksum As.

Jelas bahawa suri tauladan bagi umat Islam yang hidup setelah Rasulullah Saw adalah Imam Ali As. Teladan bagi kaum muslimin yang hidup setelah masa Imam Ali As adalah Imam Hasan As. Teladan bagi kaum muslimin yang hidup setelah Imam Hasan As adalah Imam Husein As. Dan begituah seterusnya sampai kepada Imam yang kedua belas. Dan ketika Imam yang kedua belas hidup dalam keadan ghaib kubra, maka yang menjadi suri teladan adalah para ulama dan maraji agung, seperti Imam Khomeini Ra dan Imam Ali Khamene’i Hf.
Terkait dengan mengambil suri teladan dari keluarga suci Rasulullah Saw, apa yang harus kita lakukan untuk anak-anak kita?

Jawabnya adalah: Yang harus dilakukan oleh para orang tua agar mereka dapat menganbil teladan dari kelurga suci Nabi Saw adalah orang tua memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama mereka, iaitu Muhammad, Ahmad, Ali, Fatimah, Zahra, Zainab, Hasan, Husein, Ja’far, Musa, Mahdi, dan lainnya. Misalnya orang tua memberi nama puterinya Zahra, maka Az-Zahra Sa akan menjadi teladan bagi anak puterinya tersebut. Ketika saya memberi nama anak saya dengan nama Ali, maka yang menjadi teladan bagi anak saya itu adalah Imam Ali As. Dan begitulah seterusnya.

Kemudian orang tua juga harus mampu menyampaikan cerita dan kisah kepada anak-anaknya itu tentang Imam maksum yang namanya itu dipakai untuk nama anaknya. Sehingga anak itu akan lebih cepat tertarik untuk meneladani Imam maksum As tersebut. Disamping itu anak akan merasakan adanya kedekatan ruhani dengan Imam maksum tersebut dan ia akan lebih banyak bertanya tentang bagaimana sikap hidup Imam maksum yang namanya itu diterapkan kepada dirinya. Bagaimana beliau makan, minum, tidur, berbicara, solat dan seterusnya. Singkat kata anak itu akan berusaha meneladani beliau.

Jangan sampai orang tua memberi nama untuk anaknya dengan nama Husein, tetapi ia tidak dikenalkan dengan sirah, sejarah dan kehidupan Imam Husein As. Oleh kerana itu, seorang ibu harus membaca riwayat hidup seorang tokoh yang sama denga nama anaknya.

Tetapi dalam membacakan kisah, orang tua harus pandai memilih kisah yang sesuai dengan usia anaknya. Jangan membacakan kisah yang menakutkan dan yang membuat anak-anak menjadi sedih dan menangis sehingga membuat perasaannya terluka. Misalnya anak puteri yang belum kuat mentalnya dibacakan kisah Sayidah Ruqayyah sehingga anak puteri itu menangis. Hal ini malah tidak baik untuk perkembangan mentalnya.

Ceritakanlah keindahannya, kasih sayangnya, kebaikannya, kehidupannya yang ceria dan hal-hal lainnya yang mungkin dapat diteladani oleh anak-anak. Dengan mengenal para Imam maksum As sejak usia anak-anak, maka hal itu akan menjadi lampu penerang bagi jalan-jalan anak-anak kita. Imam Ali As berkata: “Sirojul Mukmin Ma’rifatu Haqqina”; lampu penerang mukmin adalah mengenal hak-hak kami.

Membacakan kisah-kisah manusia suci dan sempurna kepada anak-anak akan menciptakan teladan yang baik buat mereka. Allah Swt di dalam Al-Qur’an pun sangat menekankan pentingnya kisah-kisah. Bahkan dikatakan kepada Rasul Saw ungkapan “Naqushshu ‘Alaika” (Kami kisahkan kepadamu) dalam tiga surah, yakni dalam surah al-Kahfi ayat 13, surat Hud ayat 120, dan surat Taha ayat 99.

Imam Ali Khamene’i Hf mengatakan bahawa para ibu harus memiliki bekal budaya (ozuqaye farhanggi), dan harus pandai menyampaikan kisah-kisah dan cerita kepada anak-anaknya.

Oleh itu setiap guru, pendidik dan orang tua dan khususnya para ibu harus mengenal para Imam maksum dengan baik dan harus banyak membaca kisah-kisah dan riwayat hidup mereka.

Imam Ja’far As-Sadiq As berkali-kali mengatakan bahAwa barang siapa yang mati dan tidak mengenal imamnya maka ia mati jahiliyah. Lalu ia berkata barang siapa yang mengetahui hak kami dan mencintai kami, maka Allah juga akan mencintainya.

Riwayat hidup manusia termulia Rasulullah Saw dan para maksumin harus kita hidupkan kerana musuh-musuh Islam tidak ingin kisah-kisah dan riwayat hidup mereka itu diceritakan dan bahkan mereka sentiasa berusaha untuk memadamkannya. Musuh-musuh Islam sangat mengetahui dan menyedari bahawa Rasulullah Saw betul-betul tokoh teladan bukan hanya bagi kaum Muslimin tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Oleh kerana itu mereka berusaha untuk memadamkannya. Sebagai contoh apa yang dilakukan Muawiyah bin Abi Sufyan ketika mendengar suara azan dan sampai kepada kalimah “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”? Amr bin Ash berkata: Aku melihat bahwa Abu sufyan berkata ketika mendengar nama Nabi dalam azan tersebut; Demi Allah, padamkan nama Muhammad itu !

Oleh itu, kita harus membaca nama Rasul Saw setiap hari dan memperkenalkannya kepada anak-anak kita. Jangan hanya membaca nama Nabi dan keluarganya pada saat azan dan solawat saja. Tetapi nama-nama mulia itu harus dibaca dan didengungkan siang dan malam kepada anak-anak dan masyarakat kaum Muslimin.

Ketika kita membaca kisah-kisah dan riwayat hidup para manusia suci, maka kita juga harus berusaha agar dapat mengambil kesimpulan dan pelajaran dari riwayat hidup mereka. Misalnya kisah Nabi Ayub As, beliau dengan segala kesusahannya menanggung penyakit dan penderitaan yang sangat berat dan panjang. Dari kisah ini ambillah kesimpulan dan sampaikan kepada anak –anak. Kisah ini mengandung pesan : Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya duia ini adalah tempat ujian, dan hidup itu tidak pernah kosong dari ujian. Oleh itu siapkanlah dirimu untuk menerima berbagai ujian. Dan bersabarlah ketika ujian itu mendatangimu, apapun bentuknya ujian tersebut. Serahkanlah semua urusanmu hanya kepada Allah Swt.

Bacakanlah kepada anak-anak kisah hidup para nabi satu persatu, kisah nabi Yunus, nabi Musa, nabi Ibrahim, dan nabi-nabi yang lainnya. Setelah itu katakanlah kepada anak-anak:

Wahai anakku, jika kamu berada di dalam laut seperti nabi Yunus, atau seperti nabi Nuh ketika berada di tengah-tengah air, atau kamu seperti nabi Musa yang berada di tepi laut, atau seperti nabi Isa yang berada di langit, maka janganlah kamu merasa khuatir, kerana dimanapun kamu berada, selama kamu bertakwa, maka Allah selalu bersamamu dan tetap akan menjagamu.

Ketika anak-anak mendengar kesimpulan dan pelajaran dari kisa-kisah yang mereka dengar, maka akan timbul percaya diri di dalam hati mereka. Mereka akan selalu mengingat kisah yang pernah mereka dengar itu dan selalu ingat juga pelajaran dan kesimpulan yang mereka dapati sehingga dapat mereka terapkan di dalam kehidupan mereka.

Jadi tujuan membaca riwayat hidup dan kisah-kisah seperti ini adalah utuk memperkokoh tauhid dan akidah anak-anak dan mengenal sirah Ahlul Bait As supaya mereka dapat meneladaninya di dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Hal lainnya yang juga garus dilakukan oleh guru, pendidik dan orang tua dan khususnya kaum ibu –kerana kaum ibu itu lebih banyak di rumah bersama anak-anaknya- adalah memperluas akal dan wawasan anak-anak setiap hari. Berhati-hatilah dengan tarbiah dan pendidikan yang tetap membuat anak-anak lalai, bodoh dan tidak mencerahkan pemikirannya. Lakukanlah sesuatu yang membuat anak itu berfikir dan mengerti tentang sesuatu. Misalnya anak itu disuruh meniup belon, suruh ia meniup lagi dan meniup lagi dan terus ditiup hingga akhirnya meledak. Lalu katakan kepada anak itu: Wahai anakku, ketahuilah bahawa segala sesuatu itu jika berlebihan, maka akan berakibat buruk dan bahkan akan menghancurkan. Belon ini ketika kebanyakan angin yang masuk ke dalamnya, maka ia tidak kuat dan akan meledak. Barang yang kamu bawa, jika melebihi batas kemampuanmu, maka kamu akan sakit. Segala sesuatu apapun jika ditekan terus dan terus ditekan, maka akhirnya ia akan pecah dan meledak. Dan tekanan itu boleh saha dengan angin, tenaga, beban yang berat dan boleh juga dengan ucapan dan kata-kata yang tidak bijak.

Contoh lainnya misalnya dengan memeperkenalkan alat suntikan kepada anak puteri yang sudah berumur tujuh atau delapan tahun. Si ibu hendaklah mengatakan kepada puterinya itu: Wahai anakku, tahukah kamu alat apakah ini? Sekarang apabila alat ini sudah dipakai, apakah ada orang yang mau memakainya lagi? Anakku, apabila alat ini sudah pernah dipakai, maka tidak ada seorangpun yang mau memakainya lagi. Kenapa? Kerana ia sudah terkena bakteria. Dan jika dipakai lagi, maka bakterianya akan pindah dan akan membahayakan si pemakainya.

Jadi tidak ada jalan lain, alat suntikan yang sudah dipakai itu harus dibuang dan dijauhkan.
Demikian juga halnya dengan anak wanita, jika anak wanita itu sudah rosak, maka ia harus dibuang dari masyarakatnya agar penyakitnya tidak menular kepada wanita-wanita lainnya.

Untuk meluaskan wawasan dan memajukan pemikiran anak-anak, orang tua boleh juga menggunakan berbagai contoh dari riwayat-riwayat maksumin As. Misalnya Imam Ali As pernah berkata: Sesungguhnya Syi’ahku itu seperti lebah. Lebah selalu makan dari yang baik-baik dan memberikan yang terbaik kepada orang lain, iaitu berupa madu yang manis dan menyembuhkan berbagai penyakit. Dan jika ada kesempatan, maka hadis seperti itu dilukis dan di gambar dengan baik dan jelas, agar hal itu terukir di benak mereka hingga akhir hayatnya.
Sampaikan kisah nabi Ibrahim kepada anak-anak. Nabi Ibrahim telah membuat dan memberikan pemahaman kepada masyarakatnya dengan cara yang sangat bagus dan menarik. Ketika ia menghancurkan patung-patung dengan kapaknya, lalu kapaknya itu ia kalungkan di bagian leher patung yang terbesar yang tidak ia hancurkan.

Ketika para penyembah berhala datang dan bertanya kepadanya: Siapakah yang menghancurkan patung-patung itu? Beliau menjawab: Tidakkah kalian melihat bahawa kapak itu berada dileher patung itu! Merekapun terdiam.

Hal seperti ini merupakan satu upaya untuk membuat pemahaman yang sangat baik kepada anak-anak, sehingga kisah ini menjadi terukir di benak mereka. Mereka akan cepat menarik kesimpulan, iaitu apabila patung yang besar itu tidak dapat berbuat apa-apa, lalu kenapa mereka sujud dan menyembahnya? Benak anak kecil seperti besi berani atau magnet yang dapat mengambil apa saja yang mereka lihat dan dengar. Sampaikanlah kepada mereka berbagai ilmu dan pengalaman hidup melalui kisah-kisah, syair dan ucapan untuk mengukir keperibadian mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *