Pendidikan Anak 42

 

 

Menegur Anak

Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna di sepanjang masa untuk semua umat manusia dalam semua peringkat usia, termasuk untuk anak-anak. Oleh itu Islam juga menyajikan kaedah mendidik anak yang berkaitan dengan masalah memberikan teguran kepada mereka. Untuk anak yang berusia di bawah tujuh tahun, para guru, pendidik dan orang tua tidak boleh terlalu banyak dan jangan terlalu sering memberikan teguran dan peringatan, apalagi jika teguran itu disertai dengan ancaman. Hal itu sangat tidak baik dan bahkan akan menurunkan mental mereka. Dan salah satu perkara yang menyebabkan anak-anak itu menjadi degil, selalu mencari alasan yang bermacam-macam ketika disuruh untuk mengerjakan sesuatu oleh orang tuanya adalah kerana mereka terlalu sering ditegur dan diberikan ancaman yang bermacam-macam.

Lebih buruk lagi ketika orang tua dan khususnya ibu, memberikan teguran kepada anak-anaknya berulang-ulang dan kemudian diikuti dengan emosi dan suara yang keras. Misalnya : “Harus berapa kali ibu mengatakannya kepadamu”. “Sudah berulang kali ibu katakan kepadamu, tetapi tetap saja kamu tidak mahu dengar”. “Kalau kamu masih saja degil, kamu tidak boleh lihat TV lagi selamanya”. Dan lain-lain teguran dan ancaman.

Dalam meghadapi anak-anak yang nakal dan degil dalam keadaan apapun, para guru, pendidik dan orang tua perlu menjaga emosi dan amarah. Dalam keadaan apapun perlu tetap menzahirkan kasih sayang dan kelembutan, walaupun memang hal ini sangat berat sekali. Tetapi dengan selalu memperhatikan hal ini di hadapan anak-anak, maka guru, pendidik dan orang tua akan terbiasa dan akan melihat hasilnya. Yang jelas, teguran dengan kasih sayang kepada anak-anak itu jauh lebih berhasil dan lebih baik jika dibandingkan dengan teguran yang disertai dengan emosi dan ancaman.

Saya yakin bahawa banyak sekali orang tua yang lalai atau tidak menyedari pentingnya kaedah kasih sayang dan kelembutan dalam menegur anak-anak, terutama anak-anak dibawah usia tujuh tahun. Teguran kepada anak-anak yang sering diulang dan disertai emosi dan ancaman itu sangat tidak menguntungkan, baik kepada anak-anak yang masih dibawah usia tujuh tahun mahupun yang telah berusia lebih dari tujuh tahun. Dan lebih buruk lagi jika disertai juga dengan pukulan, cubitan, dan hal-hal yang lain. Anak-anak yang sering diberikan teguran dengan kasar yang disertai dengan ancaman dan pukulan fizikal, akan timbul rasa dendam di dalam jiwa mereka dan mereka akan berfikir untuk dapat membalas dendam pada suatu saat nanti. Dan agama Islam tidak mengajarkan hal-hal yang seperti itu.

Ajaran Al-Qur’an sentiasa mendahulukan kasih sayang dan kelembutan. Ungkapan “Ya Bunayya” yang berarti wahai anakku sayang yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan di kebanyakan riwayat yang dijadikan contoh oleh Lukman Hakim ketika menasihati anaknya dan juga para maksumin As, adalah contoh kasih sayang yang sangat jelas. Inilah ajaran Islam dan inilah bimbingan Al-Qur’an al-Karim yang harus difahami oleh setiap guru, pendidik dan orang tua dan khususnya para ibu.

Pengulangan dalam nasihat, teguran dan peringatan kepada anak-anak memang sangat diperlukan. Tetapi dalam mengulang perintah dan teguran itu, guru, pendidik dan orang tua, harus pandai melihat situasi anak-anak dan dengan bahasa yang lembut dan penuh kasih sayang. Jadi pengulangan itu memang sangat diperlukan dan sangat bermanfaat, tetapi dengan cara yang benar sehingga akan membuahkan hasil yang diinginkan.

Oleh karena itu di dalam membentuk akidah, kepercayaan dan keperibadian anak-anak, para guru, pendidik dan orang tua harus mengulang-ulang apa yang telah disampaikan kepada mereka. Kenapa demikian? Jawabnya adalah kerana manusia itu memang sering lupa dan seringkali lalai. Manusia yang bahasa arabnya adalah al-insan salah satu maknanya adalah nisyan iaitu pelupa. Apa yang harus kita lakukan terhadap manusia yang bersifat pelupa? Anak-anak kita pun merupakan sebahagian dari manusia. Oleh itu anak-anak kita juga tidak ada pengecualian dari sifat pelupa ini. Apa yang harus diperbuat oleh para guru, pendidik dan orang tua terhadap anak-anak yang sering lupa dan lalai? Para guru, pendidik dan orang tua jangan bosan untuk memberi pelajaran, pendidikan dan pengajaran yang baik kepada anak-anak. Dan selalu mengingatkan mereka ketika mereka lalai dan lupa, tetapi harus memahami keadaan mereka sehingga peringatan tersebut bermanfaat dan berpengaruh bagi mereka.

Para guru, pendidik dan orang tua dan khususnya para ibu harus pandai mencari dan menciptakan cara yang menarik anak-anak dalam mengulangi perintah dan teguran ketika mereka lalai atau malas. Misalnya dengan jalan kisah atau cerita yang menarik, sehingga anak-anak tidak terasa dan tidak tersinggung bahawa sebenarnya lewat cerita tersebut, guru atau orang tua ingin memberikan teguran dan peringatan kepada mereka.

Apabila kita perhatikan kisah-kisah di dalam Al-Qur’an al-Karim, maka kita akan dapati bahawa sebahagian dari kisah-kisah tersebut terjadi pengulangan. Tetapi hal itu tidak membuat pembaca dan pendengarnya bosan, malah menambah daya tarik yang tersendiri. Misalnya kalimah Bismillah, berapa kali Allah mengulanginya di dalam seluruh Al-Qur’an al-Karim? Jika pengulangan kalimat Bismillah itu tidak baik dan tidak ada manfaatnya, maka cukup Allah Swt akan menyebutkannya satu kali saja di dalam surat al-Fatihah. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Jadi pengulangan itu perlu dan bermanfaat sekali, hanya saja kita perlu mencari cara dan pola yang baik dan sesuai dengan keadaan anak-anak.

Diantara manfaat mengulang-ulang kisah atau cerita yang Islami untuk anak-anak adalah membentuk keperibadian jiwa mereka. Ketika mereka sering mendengar kisah-kisah Islami yang dapat meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan mereka, maka hal itu secara perlahan-lahan tetapi pasti akan membentuk jiwa dan keperibadian mereka. Dengan kata lain seorang guru atau pendidik dan orang tua dapat membentuk akhlak, sikap, tingkah laku dan keperibadian anak-anak melalui kisah-kisah Islami yang sering diulang-ulang.

Rasulullah Saw menganjurkan umatnya agar sering-sering mengkhatamkan Al-Qur’an al-Karim, terutama pada bulan suci Ramadhan. Pada bulan suci Ramadhan kita dianjurkan agar dapat mengkhatamkan Al-Qur’an al-Karim beberapa kali.

Imam Ridha As ketika beliau pergi meninggalkan kota Madinah menuju ke kota Khurasan, selama dalam perjalanan, beliau membaca Al-Qur’anal-Karim sebanyak sepuluh juz.

Kenapa Al-Qur’an harus selalu dibaca berulang-ulang? Jawabnya adalah disamping hal itu akan dapat membentuk keperibadian si pembacanya, hal itu juga akan menciptakan suatu bentuk di alam malakut dan di alam barzakh. Di dalam riwayat dikatakan : Iqra’ Warqa’! bacalah dan kemudian naiklah ke darjat syurga yang berikutnya yakni ke tingkatan syurga yang lebih tinggi lagi. Jadi setiap mengulang satu kali, akan naik ke tingkatan surga berikutnya.

Di dalam pendidikan anak, masalah pengulangan juga sangat dianjurkan. Tetapi pengulangan itu tidak sampai membuat anak jenuh dan penat. Pengulangan itu tidak ifrat dan juga tidak tafrit, yakni tidak berlebihan dan juga tidak kurang sekali. Tetapi harus disesuaikan dengan keperluan anak.

Dalam hal apapun pertengahan itu harus tetap dijaga, dalam memberikan kasih sayang, dalam memberikan nasihat, dalam menyampaikan kisah dan cerita, dan sebagainya kerana jika berlebihan, akan mengakibatkan hal yang negatif.
Cuba kita perhatikan, orang yang membuat patung atau ukiran, apakah hanya dengan sekali saja sudah berhasil? Tidak, tetapi dia harus memahatnya dan mengukirnya berulang-ulang sehingga menjadi terbentuk sesuai dengan yang diinginkannya.

Guru Imam Khomeini ra yang bernama Syah Abadi Buzurg mengatakan bahawa untuk membentuk sifat dan watak yang baik itu harus selalu mengulang-ulanginya. Misalnya kita meyakini bahwa mayat atau orang yang sudah mati itu tidak akan bergerak dan tidak akan melukai kita, tetapi apakah pada malam hari kita berani tidur di sebelah mayat? Lebih dari itu apabila semua jenazah manusia di dunia ini dikumpulkan, maka jika ada seekor lalat saja yang hinggap di badan mereka, maka mereka tidak akan mampu mengusirnya. Namun demikian tetap saja kita merasa takut tidur bersama mayat-mayat tersebut. Kenapa demikian? Padahal kita yakin dan tahu bahwa mereka tidak bergerak sedikitpun. Hal itu, karena kita tidak sering melakukannya.

Lain halnya dengan petugas yang mengurus jenazah atau mayat, yang biasa memandikan mayat, Dia berani tidur di tengah-tengah jenazah pada malam hari. Kenapa? kerana orang yang mengurusi mayat itu selalu mengulang- ulang pekerjaannya itu dan ia yakin bahawa mayat itu tidak akan bergerak. Ertinya ia sudah terbiasa berkumpul dengan mayat-mayat tersebut, sehingga rasa takutnya hilang. Disinilah rahsia pengulangan.

Kita perhatikan bahawa kisah nabi Musa As di dalam Al-Qur’an banyak diulang, bahkan pengulangannya dengan kaliamah yang sama. Cuba perhatikan juga hadis silsilatuzzahab Imam Ridha As, para imam maksum yang datang setelah beliau mengulang-ulang hadis tersebut, kenapa? Hal ini tidak lain kecuali pentingnya masalah pengulangan.

Ketika seorang mahasiswa atau pelajar akan mengikuti ujian, apakah hanya dengan membaca satu kali saja ia sudah merasa cukup? Ataukah ia harus membaca bahan yang akan diuji itu berulang-ulang? Sudah pasti ia akan membacanya berulang-ulang sampai ia faham dan dapat menjawab soal-soal ujian. Nah dalam mendidik anak pun, guru, pendidik dan orang tua harus sering mengulang-ulang apa yang telah disampaikan, tetapi jangan berlebihan, harus lihat dan mengetahui keadaannya dengan baik.

Kaedah pengulangan dalam mendidik anak-anak dan menyampaikan berbagai pelajaran melalui lagu-lagu, nyanyian dan kisah, adalah suatu hal yang tidak diragukan lagi manfaatnya oleh semua pendidik, guru dan para orang tua. Oleh itu, kaedah ini harus betul-betul diperhatikan oleh para guru, pendidik dan orang tua dan harus diterapkan secara benar dan tepat.

Ketika seorang anak sudah menghafal sebuah lagu atau sebuah surat, misalnya, maka suruh atau mintalah ia agar membacanya lagi di depan tamu anda, di lain kali mintalah agar ia mengulanginya di depan datuk dan neneknya atau keluarga lainnya dan begitulah seterusnya. Berilah ia hadiah walaupun kecil dan sederhana atas keberaniannya mengulang dan membaca hafalannya itu. Karena hadiah sekecil apapun akan dapat menyenangkan anak-anak dan sangat berpegaruh dalam memotivasi dirinya sehingga lebih cepat membuatnya maju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *