Pendidikan Anak (40)

Mendidik Keluarga

Pada pertemuan sebelumnya kita sedang membahas tentang hukuman (tanbih) terhadap anak serta proses pembentukan berbagai sifat atau karakter pada diri anak. Dari sebahagian riwayat-riwayat yang ada dapat difahami bahawa anak-anak sejak masih berusia di bawah umur tujuh tahun secara perlahan-lahan sudah harus dianjurkan untuk mulai belajar atau latihan dalam mengerjakan solat.

Para pembaca sekalian, sebagaimana halnya ketika kita memasukkan data atau file-file ke dalam sebuah flash disk dan kemudian membukanya di komputer lain, data ata file-file yang ditampilkan adalah data atau file-file yang sebelumnya telah kita masukkan. Nah! apakah Islam mengizinkan kita untuk menghukum dan memukul anak kita agar dia mengerjakan solat? Dan anak ini pula, ketika kelak berkeluarga akan melakukan pula hal yang sama terhadap anak dan keluarganya terkait dengan persoalan agama.

Saya bertanya kepada anda? Putera Nabi Nuh As yang telah begitu nyata tersesat dan melakukan penentangan terhadap ayahnya, dalam riwayat manakah disebutkan bahawa beliau memukul dan menghukum puteranya? Nabi Ya’qub As tidak pula melakukannya ketika anak-anaknya berbuat salah.

Tentunya sebagaimana diungkapkan Imam Ali As bahawa, “Anak yang buruk (berperilaku buruk) merupakan musibah terbesar”. Namun demikian, seperti telah dibahaskan sebelumnya bahawa formula tarbiah yang tepat bagi anak-anak di bawah usia tujuh tahun atau bahkan di atas umur tujuh tahun adalah formula yang diajarkan pula oleh Imam Shadiq As iaitu dengan amal perbuatan (ghairu alsinatikum) kita mendidik anak kita secara tidak langsung.

Orang tua semampu mungkin dapat mengawasi dan menyertai anak-anaknya meskipun itu dilakukan dari jauh, dan bagaimana mungkin kita dapat menyertai dan mendekati anak jika kita selalu bersikap keras terhadap mereka. Poin yang patut diperhatikan ialah baik kepada anak yang masih di bawah tujuh tahun atau pun di atas tujuh tahun, kita tidak boleh menghukum(tanbih) anak [dalam pengertian memukul atau merotannya], agama sendiri telah menetapkan diyah (denda) dalam masalah hukuman ini.

Kita dapat menela’ah serta melihat bagaimana sirah para Nabi As, di dalam surah At Tahrim terdapat suatu ibarat atau ungkapan-ungkapan keras atau tegas terkait dengan isteri-isteri Nabiullah Nuh As dan Nabiullah Luth As, mereka bukanlah perempuan atau isteri-isteri yang baik, namun sampai akhir tetap hidup di dalam rumah para Anbiya ini. Mereka tidak pernah diusir meninggalkan rumah.

Silaturahmi atau hubungan ini tidak boleh putus, baik hubungan yang bersifat emosional kepada anak-anak yang masih kecil maupun terhadap anak yang sudah besar atau beranjak dewasa, tindakan mengusir anak dari rumah ketika mereka melakukan satu dua kesalahan adalah tindakan yang tidak benar, sebab manakah yang lebih baik anak hidup dalam naungan rumah tangga ataukah hidup berkeliaran di jalan-jalan? Olehnya itu, hal ini dapat kita saksikan bagaimana Nabi Nuh As dan Nabi Ya’qub As tidak mengusir isteri dan anak-anak mereka.

Dalam seluruh tahapan [pendidikan] kita tidak boleh bersikap keras terhadap anak-anak kita, makanya Nabi Saw mengatakan, “Didiklah anak-anak kalian dengan baik sehingga kalian memperoleh rahmat Allah Swt” dan hal ini hanya akan terjadi manakala terdapat kesesuaian dan pengorbanan di antara anggota-anggota keluarga. Keluarga mesti dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.

Kita tidak boleh menginginkan atau menghendaki sesuatu yang amat besar dari anak kita kerana “keinginan besar” ini pula yang dapat menimbulkan perselisihan dan kekerasan, kita harus mampu mengatur dan menyesuaikan hal itu sejak usia kecil mereka, sebab jika hal itu tidak dilakukan, boleh menyebabkan anak terpisah serta menjauhkan diri dari orang tuanya.

Jika seseorang sudah mengamalkan seluruh apa yang dianjurkan oleh agama namun si anak masih saja berperilaku buruk, maka hukumnya sama dengan kes Nabi Nuh As di mana beliau tidak akan dihukum lantaran ketersesatan puteranya kerana Nabi Nuh As telah menunaikan tugas dan kewajibannya. Tentunya sekaitan dengan masalah ini telah dipaparkan pula secara jelas dalam surah At Taubah : 91 di mana Allah Swt mengatakan, “..tidak ada dosa bagi orang-orang yang telah berbuat kebaikan…”.

Semoga Allah Swt semakin mengenalkan kita kepada maktab Ahlul bait As kerana jalan yang lurus hanyalah ini. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *