Pendidikan Anak (39)

Rasa Cinta Kepada Anak

Perbahasan kita berkaitan dengan kecintaan (mahabbah) kepada anak serta penjelasan tentang hukuman (tanbih) terhadap anak yang terdapat dalam beberapa riwayat yang mana kita telah dianjurkan untuk bertindak keras. Lalu seperti apa makna tindakan keras ini?

Pembaca sekalian, perlu diketahui bahawa salah satu di antara kewajiban-kewajiban orang tua ialah perlakuan emosional (dengan perasaan) terhadap anak. Di dalam Al Quran kita dapat melihat bagaimana Nabi Ya’qub As memperlakukan anak-anaknya. Sebagaimana kita ketahui putera-putera Nabi Ya’qub As telah melakukan dosa-dosa besar setelah mereka membuang saudara mereka Nabi Yusuf As ke dalam sebuah telaga, mereka telah menzalimi dan memutuskan silaturahmi dengan saudaranya serta berbohong dan memperdaya ayah mereka.

Namun Nabi Ya’qub As tidak menghukum (tanbih) mereka dengan merotan ataupun pukulan. Dan kita dapat menyaksikan bagaimana Nabi Yusuf As ketika berdialog dengan ayahnya terkait mimpi yang disaksikannya, betapa hubungan emosional yang terjalin di antara mereka begitu kuat dan erat sehingga anak dengan mudah dan tanpa beban dapat memberitahu masalah yang dialaminya dan ayah pun dengan begitu lembut dan rasional memberikan penjelasan. Keadaan yang sama dapat pula kita jumpai dalam Al Quran dalam peristiwa dialog antara Lukman dan puteranya. Semua ini menunjukkan bahawa di antara mereka (ayah dan anak) tidak pernah terjadi perseteruan fizikal.

Adapun makna serta maksud dari riwayat-riwayat yang menganjurkan kita untuk menghukum (tanbih) anak adalah bagaimana sedapat mungkin kita mampu memanfaatkan potensi anggota tubuh kita dalam mendukung atau memuji sikap dan perilaku anak. Hukuman di sini tidak bermakna sebagai rotan atau pukulan kepada anak. Tetapi kita dapat menghukum anak dengan menunjukkan sikap marah dsb, hanya saja sebahagian orang tua kadang terlalu berlebihan dalam mengecam dan menghinakan anaknya dengan beragam kata-kata cacian, tentu orang tua seperti ini tidak dapat lagi menggunakan “bahasa anggota tubuh” dalam memberikan hukuman (tanbih), kerana tingkatan (perlakuan keras) ini terlalu keras bagi anak dalam memperoleh pesan-pesan (yang hendak kita tanamkan), tindakan ini tentu sudah tidak efektif lagi.

Dalam sebuah riwayat dikatakan seperti ini, “Tunjukilah masyarakat melalui amal perbuatan kalian”, Anak-anak kita merupakan bahagian dari masyarakat pula. Tentu kita tidak dapat memerintahkan kepada anak kita agar mereka solat di awal waktu sedangkan kita sendiri tidak mengerjakannya. Hal ini dinyatakan dalam Al Quran sebagai sesuatu yang buruk, yakni seseorang mengatakan sesuatu di mana dia sendiri tidak mengamalkannya. Tak ada seorang pun yang dapat memperbaiki (melakukan islah) seseorang dengan kekerasan dan sikap kasar. Dalam riwayat-riwayat yang menceritakan kehidupan Nabi Musa As disebutkan bahawa Allah Swt berfirman kepada Musa As, “Wahai Musa! aku menjadikanmu sebagai Nabi-Ku disebabkan dua perkara, pertama; Kerana sujud yang panjang dan lainnya adalah; Ketika engkau jadi penggembala, seekor biri-biri kecil terpisah dari kelompoknya dan engkau begitu sibuk mencarinya, namun ketika engkau menemukan dan mengambilnya, engkau tidak memukulnya melainkan engkau mengendongnya dan memperlakukannya dengan lembut lalu mengembalikannya ke kelompoknya. Oleh itu, aku melihat bahawa engkau layak menjadi Nabi”. Dari riwayat-riwayat ini, yang dapat kita fahami adalah dalam perkara hukuman (tanbih) kita tidak boleh bertindak hingga kita tidak lagi dapat menjalin hubungan dengan anak.

Isteri Abbas bapa saudara Rasulullah Saw menukilkan bahawa, “Imam Husain As sedang berada dalam pangkuan Nabi Saw dan Ia membasahi Rasulullah, Isteri Abbas lalu mengambil Imam Husain As dengan agak keras (Imam Husain waktu itu masih sangat kecil), Rasulullah Saw kemudian berkata, “Pakaianku ini dapat bersih kembali dengan sedikit air, namun bagaimana engkau dapat membersihkan “debu” yang telah hinggap dalam qalbu Husain?” perhatikan kelembutan perkataan Nabi ini, beliau mengatakan “debu kelukaan hati”, yakni engkau telah menabur debu kelukaan hati pada jiwa anak dengan perlakuan keras ini. Oleh sebab itu, dalam kehidupan kita, sikap marah dan ancaman itu tidak boleh kita lakukan dalam bentuknya yang keras (ekstrem) seperti ini. Makanya, sebahagian orang kita saksikan tumbuh dalam situasi seperti ini, Nabi sendiri di dalam sirahnya jika kita tengok, ketika Nabi Saw berjalan di jalan-jalan beliau terkadang merangkul anak-anak orang lain dan beliau menganjurkan pula kepada sahabat-sahabatnya agar melakukan hal yang sama. Perilaku seperti ini kita jumpai pula dalam sirah para Maksumin lainnya. Nabi Saw berkata, “Pandangan penuh cinta seorang ayah kepada anaknya, sama seperti Ia sedang membebaskan seorang hamba”, dan jumlah riwayat-riwayat sepeti ini tidaklah sedikit.

Agama kita adalah agama cinta-kasih dan dalam masalah pendidikan (tarbiah) pun dimaknai seperti itu, maka dari itu Imam Musa Kazim As pernah berkata, “Tak ada yang melebihi kemurkaan Tuhan atas kezaliman terhadap wanita-wanita dan anak-anak”, dapat anda lihat dalam kitab Al Kafi jilid 6. Dalam riwayat lain, Imam Sadiq As berkata, “Seorang Mukmin harus kosong dari 6 ciri-ciri, iaitu; Mempersulit, akhlak buruk, zalim, keras kepala, hasad dan bohong’. Semua ini merupakan alat (instrumen) tarbiah bagi seorang ayah, yakni seorang ayah tidak boleh berbohong, kerana ketika Ia bohong maka kepercayaan pun akan hilang. Dengan demikian, perlu kiranya kita memperhatikan bahawa di dalam Islam kita tidak pernah dibolehkan memakai instrumen tekanan, apa lagi dalam bentuk tangan. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *