Pendidikan Anak (38)

 

Tarbiah Moderat

Perbahasan kita adalah tentang pendidikan (tarbiah) anak-anak. Kita telah sampai pada tingkatan usia di bawah tujuh tahun dan akan melanjutkan perbahasan pada tahap usia ini.

Perlu diketahui bahawa pembahagian tahapan-tahapan usia ini menjadi tujuh tahun pertama, tujuh tahun kedua serta tujuh tahun ketiga adalah bersumber dari para Imam Maksum As.

Pada pertemuan ini kita akan membahas sebuah keraguan yang kemungkinan kita hadapi di kemudian hari. Di antara kumpulan riwayat atau hadis-hadis yang kita terima dari para Maksum As, dalam hubungannya dengan keinginan kita agar anak rajin solat, terdapat suatu ungkapan-ungkapan (kalimat) yang tidak boleh kita fahami secara buruk dan keliru. Misalnya dalam mengajar anak untuk solat di usia 9 tahun atau 7 tahun, dalam riwayat kita melihat bahawa Imam As memerintahkan kita untuk menghukum (tanbih) atau menekan (akhz) anak sehingga Ia mengerjakan solat. Apakah tanbih di sisni dapat dimaknai “memukul” anak atau bermakna lain? Ketelitian dalam menerjemahkan kalimat-kalimat semacam ini tentu sangat diperlukan.

Dalam Islam, segala aktiviti kita harus didasarkan pada ayat-ayat Al Quran serta sirah (perjalanan hidup) para Maksumin As. pernahkah kita mendapati seorang Maksum yang menghukum anaknya dengan rotan? Tentu satu kes pun tidak dapat kita temukan.

Dalam surah Al Imran ayat 159 Allah Swt berfirman kepada Rasulullah Saw, “Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu..” dan pada ayat yang lain Fir’aun telah dikecam Tuhan akibat perilaku dia dalam keluarga (dalam hal ini kita tidak ingin membahas perilaku-perilaku Fir’aun lainnya). Di sini sengaja kita hanya ingin membahas aspek perilaku Fir’aun dalam keluarga sebagai perbandingan atas ayat 159 surah Al Imran. Salah satu laporan atau kecaman Al Quran terkait perilaku Fir’aun dalam keluarga adalah Fir’aun menyeksa dan memaku isterinya. Hal ini sangat penting kerana sebahagian orang di rumah berperilaku Fir’aun terhadap isteri dan anak-anaknya dan Al Quran dengan tegas menolak perilaku firauni ini dalam lingkungan keluarga. Yakni orang yang paling dekat dengan ayah disiksa dengan paku, yaitu dengan paku pukulan, paku fitnah, paku kecaman, dll. semua itu adalah bentuk-bentuk paku.

Oleh itu, ketika Al Quran menganggap buruk cara-cara seperti itu, maka makna tanbih yang dimaksud terkait dengan masalah pengerjaan solat kemungkinannya bukan hal-hal yang disebutkan itu, bahawa dalam pengerjaan Solat kita tidak boleh memukul (tanbih) anak.

Sesuatu yang dapat kita cerap serta fahami dari sikap dan perilaku Rasulullah Saw serta keluarga suci beliau ialah mereka dalam masalah pendidikan (tarbiah) tidak pernah melakukan tekanan, Amirul Mukminin As di dalam kitab Al Hishal Syaikh Shaduq Ra berkata, “Jalan kami Ahlul bait adalah jalan pertengahan (moderat)”.

Jika kita mengamati, sebahagian riwayat dari satu sisi menganjurkan kita untuk menghukum dan menekan anak, namun di sisi lain dalam risalah-risalah amaliyah, setidaknya dalam kitab Tahrir al Wasilah Imam Khomeini Ra, telah ditentukan masalah “Diyah”(denda), maka menjadi jelas bahawa di sini tolok ukur bukanlah pukulan, sebab jika ada yang melakukan itu maka Ia mesti membayar diyah. Tentu tujuan Syari’ (pembuat syariat) bukan hal ini bahawa seseorang memukul dan merotan anak dengan alasan supaya anak mengerjakan solat.

Salman Farsi, sahabat khusus Imam Ali As, berkata kepada Zaid bin Sukhan yang juga sahabat dekat Imam Ali As yang tengah sibuk melakukan ibadah dan puasa, dan isterinya mendatangi Salman melakukan protes, Salman kemudian memanggil Zaid bin Sukhan lalu mempersilakan kepadanya makanan dan berkata, “Makanlah wahai Zaid!” Zaid berkata, “Aku sedang puasa”, Salman mengulangnya hingga tiga kali, lalu beliau mengatakan apa yang juga pernah dikatakan Imam Ali As (bahawa jalan kami adalah jalan pertengahan) dengan ungkapan lain berkata, “Bentuk jalan yang paling buruk adalah jalan terlalu cepat”.

Cinta (mahabbah) itu mirip dengan air yang kita siram pada tanaman, jika terlalu banyak dapat merosak dan jika sedikit dapat membuatnya kering. Oleh sebab itu, dalam perkara tarbiah (dalam tahap pendidikan manapun) kita tidak berhak melakukan sesuatu secara berlebihan. “tindakan berlebihan” dalam asas agama kita adalah tindakan terlarang, kecuali dalam satu hal iaitu dalam perkara zikir, di mana kita di bolehkan untuk berzikir sebanyak apapun. Dengan demikian menjadi jelas bahawa makna hukuman (tanbih) terhadap anak bukanlah makna yang umumnya dikenal secara luas di jalan dan pasar-pasar, yaitu dengan memukul dan menendang seseorang dsb.

Mengapa kita mengatakan maknanya tidak demikian? Lantaran diyah telah ditentukan dan sejumlah besar riwayat yang berkaitan dengan mahabbah atau kecintaan kepada anak dan isteri telah menolak dan menafikan hal itu, di samping itu dalam sirah amaliyah para Maksumin As juga tidak kita temukan. Sirah pendidikan Maksumin di dasarkan atas kepercayaan dan kecintaan tanpa menghinakan siapapun.

Oleh sebab itu, dalam persoalan mahabbah atau kecintaan terhadap keluarga setiap kali para sahabat membuat Nabi Saw tercegah dan mengurusi keluarganya Allah Swt melarangnya! Salah satu pesan dari surat Hujurat adalah tentang ini. Ketika Nabi Saw masuk ke rumahnya, tanpa alasan yang jelas mereka kemudian datang mengganggu dan tidak membiarkan Nabi Saw istirahat serta mengurusi keluarganya, maka turunlah ayat dalam surat Hujurat yang menegur dan melarangnya.

Penting pula untuk kita perhatikan bahawa di jalan mendidik ini Imam Sajjad As berkata, “Kesabaran dan keridhoan dari Allah adalah puncak ketaatan kepada Allah Swt” yakni di dalam kitab Bihar Al Anwar Allamah Majlisi, dijelaskan bahawa sabar adalah puncak segala ketaatan. Yakni amal perbuatan orang tua harus didasarkan pada kesabaran.

Oleh itu, apa yang disampaikan dalam riwayat untuk usia di bawah tujuh tahun serta di atas tujuh tahun adalah tidak menggunakan lisan (ghairu alsinatakum) yakni kita harus menunjukkan suatu amal sehingga anak kita rajin solat. Ini adalah sebuah potensi yang jarang diperhatikan, makanya kita dapat melihat sebahagian ulama seperti Ayatullah Bahjat Ra yang sangat jarang menegur (mengingatkan) secara lisan. Para Maksumin As telah memberikan kepada kita sebuah formula dan petunjuk praktis tarbiah (bukan sekadar hadis) di mana kita harus mengarahkan anak-anak kita untuk memahami suatu perbuatan baik dan benar tanpa menggunakan lisan. Inilah yang kita sebut dengan “bahasa organ” atau “lisan tubuh” yakni (sebagai contoh) dengan “satu senyuman” kita membenarkan perbuatan anak kita dll. Kaedah penggunaan organ-organ tubuh ini kita sebut sebagai “pesan bahasa tubuh”. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *