Pendidikan Anak (36)

 

Menghadapi Sikap Degil Pada Anak

Salah satu sifat-sifat terburuk yang dapat menghancurkan dunia dan akhirat seseorang adalah sifat degil atau keras kepala.

Sifat ini mulai tumbuh pada diri anak pada usia di bawah tujuh tahun, sekaitan hal ini terdapat banyak riwayat atau hadis yang merupakan petunjuk praktis dari para Maksumin As.

Sebelum menerangkan lebih jauh tentang hadis-hadis atau riwayat-riwayat tersebut, sebagai pengantar perlu untuk kita memperhatikan beberapa poin penting, di antaranya; cara pandangan kita terhadap anak mesti berdasarkan pada suatu urutan(tertib) yang berlaku dalam ego kehidupan anak kita, dan kerana tahapan-tahapan ini terjadi dengan amat pelan dan halus maka kita tidak memperhatikannya. Tahapan atau tingkatan ini dapat diurai seperti ini, misalnya; Perhatikanlah peranan seorang perempuan, masa (periodesasi) perempuan ini dimulai dari masa kanak-kanak, masa menjadi gadis (, masa menjadi saudara perempuan, masa menjadi isteri, masa menjadi ibu, masa menjadi nenek. Ini adalah perjalanan masa yang terjadi pada perempuan dan pada laki-laki pun demikian halnya.

Islam dalam masalah tarbiyah (pendidikan) telah membina secara utuh dan rasional program-program yang sifatnya menyeluruh.

Sifat degil atau keras kepala adalah suatu sifat yang kembali kepada jiwa (ruh) manusia atau dalam istilah sekarang di sebut ego, istilah yang digunakan tentu sahaja boleh berbeza-beza, namun yang menjadi fokus perbahasan di sini adalah asal-usul atau sumber munculnya sifat degil dan keras kepala ini.

Orang tua mesti merancang suatu prakondisi metal pada diri mereka di mana hal itu selalu mengingatkan mereka bahawa anggota keluarga tidak selalu berada di bawah sebuah atap yang selalu tenang dan tenteram melainkan mirip sebuah laut yang bergelombang dan terkadang bergejolak.

Pembaca sekalian, sosok ibulah yang dapat menenangkan dan mengatur serta mengarahkan, sesama saudara boleh saja bergaduh dan orang tualah yang mesti menengahi.

Secara praktis, orang tua pada umumnya menghendaki suatu keadaan yang mana tak ada pertikaian dan semacamnya. Oleh itu sejak awal selalu mengatakan, tidak boleh ada pertikaian, semua harus diam. Ini adalah keadaan yang mirip dengan sebuah ruangan penyimpangan mayat. sedangkan anak harus bermain, bahkan kesempurnaan pertumbuhan anak adalah mesti bermain, memecah sesuatu, lompat sana sini dll. kita memang tidak pernah menginginkan rumah kita menyerupai ruang penyimpangan mayat, tetapi dalam realiti kita ingin membuat seperti itu, sedikit-sedikit kita menyuruh anak diam tak bergerak. Sedikit saja mereka bergerak kita pun segera melarang dan menyuruhnya diam.

Mengenai sifat keras kepala yang menjadi perbahasan kita. Di dalam sebuah riwayat Imam Hasan Askari As mengatakan, “Kelancangan seorang anak kepada ayahnya di usia kanak-kanak akan menyebabkan Ia tidak patuh ketika sudah besar” yakni ketika kita mengizinkan anak berani menentang ketika masih kecil, maka ketika Ia besar akan dengan mudah membantah dan menentang serta keras kepala. Ini adalah salah satu faktor penyebab terbentuknya sifat tersebut. Riwayat ini terdapat pada kitab Tuhaful ‘Uqul di bagian hadis-hadis Imam Hasan Askari As.

Hal penting yang perlu kita perhatikan pada usia terbentuknya sifat keras kepala pada anak ini ialah bagaimana menghilangkan faktor-faktor pendorong dan pembentuknya. Ketika kita mampu menghilangkan faktor pendorongnya, maka dengan sendirinya sifat keras kepala pun akan menurun atau berkurang. Salah satu di antara faktor pendorong lingkungan yang menyebabkan anak menjadi keras kepala diisyarahkan oleh Imam Ali As seperti ini, “Anakku, makian yang banyak menyebabkan orang yang dihadapi menjadi keras kepala”. Kita selalu melarang dan memaki anak dengan beragam kata seperti; duduk, jangan kesitu, jangan lakukan itu dll. kata-kata yang sering dilafazkan seperti ini dengan sendirinya akan menumbuhkan sifat melawan pada diri anak.

Dalam riwayat lainnya Imam Ali As mengatakan, “Sering memaki akan melahirkan keraguan dan prasangka buruk” yakni seringnya kita berkata kepada anak seperti; duduk, kesini, pergi, lakukan itu, jangan lakukan ini dst… semua itu akan memberi kesan pada pembentukan perilaku dan sifat pada anak, oleh sebab itu ketika anak-anak kita besar, mereka menjadi orang memandang segala sesuatu dengan prasangka buruk atau memandang segala sesuatu dengan ragu, semua ini jika tidak dijaga pada usia dibawah tujuh tahun akan menimbulkan kesan merugikan ketika anak sudah besar.

Oleh itu, sifat degil dan keras kepala di masa kanak-kanak dapat menjadi unsur kekal dan terus-menerus berpengaruh dan memasuki seluruh kehidupan anak, sebagaimana kehidupan perempuan yang telah dicontohkan sebelumnya, pada seluruh tingkatan dapat berpengaruh dan memberi kesan buruk. Misalnya pada tahap perempuan sebagai seorang isteri yang belum menjadi ibu, pada tingkatan sebagai isteri Ia dapat bersikap keras kepada kepada suaminya, pada tingkatan menjadi seorang ibu ia bersikap keras kepada kepada anak-anaknya. Oleh itu, sejak awal (di masa kanak-kanak) sifat keras kepala ini mesti segera ditangani. Sifat keras kepala adalah sifat di mana seseorang mengetahui bahawa dirinya sedang keliru namun tetap bertahan dan memaksakan pendiriannya.

Tentu saja konsep ini dapat kita jelaskan melalui tayangan filem atau buku-buku cerita dll. bagaimanapun kita harus berusaha agar efek buruk sifat keras kepala tidak masuk dalam kehidupan anak kita. Seorang yang keras kepala kehilangan satu unsur, iaitu Ia kehilangan unsur berfikir (ta’qqul), tahu jika Ia salah namun tetap saja berkeras.

Jika kita dapat mengendalikan sikap keras kepala maka kita pun akan mampu menghindari sikap marah dan memusuhi, sebab pada umumnya sifat keras kepala ini disertai pula dengan sikap marah dan memusuhi.
Dengan demikian, apabila kita mampu mengawal sifat degil dan keras kepala ini di usia di bawah tujuh tahun melalui cara dan kaedah yang diajarkan Imam Ali As iaitu; jangan terus-menerusmengatakan “lakukan ini, jangan lakukan itu, mengingatkan ini dan itu dst…” kerana anak akan menjadi degil dan keras kepala, maka sifat degil atau keras kepala tidak akan terbentuk pada diri anak kita. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb. ‘alaikum Wr. Wb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *