Pendidikan anak (35)

 

Mendidik Anak sesuai Bimbingan Al-Qur`an dan Ahlilbait

Dalam pendidikan Islam, orang tua sejak awal diharapkan telah memiliki pemahaman dan pengetahuan tarbiah (pendidikan) yang didasarkan pada budaya Al Quran serta sirah (cara hidup) Ahlul bait As.
Sesungguhnya orang tua dapat berperanan sebagai guru yang selalu menyertai anak dan semakin kuat hubungan emosional di antara mereka, semakin besar pula pengaruh yang ditimbulkannya. Sangat disayangkan bahawa sekarang ini buku-buku yang banyak dijadikan sumber pengetahuan dalam masalah pendidikan kebanyakannya adalah buku-buku barat. Sebahagian buku-buku barat yang ada sama sekali tidak memperhatikan masalah ini, atau sangat minimal dan sedikit.

Neraca perasaan atau emosionaliti dalam keluarga adalah ibu dan posisi ini mesti dijaga oleh ayah sehingga dalam masalah pendidikan anak ini sejak awal neraca emosional ibu harus selalu dalam keadaan seimbang. Yakni ayah mesti memahami bahawa ibu merupakan paksi emosi (perasaan) dalam keluarga yang mesti tetap terjaga dan tidak boleh dibiarkan mengalami penurunan sebab akan memberi kesan langsung kepada anak. Nota ini harus menjadi perhatian kita bersama.

Oleh itu hadis-hadis yang berkait tidak bileh hanya kita pandang sebagai hadis semata namun lebih dari itu merupakan petunjuk praktik yang mesti kita terapkan dan realisasikan berdasarkan prinsip-prinsip keagamaan.
Pembaca sekalian, kita dapat mengklaim diri sebagai muslim ketika kita memiliki pemahaman religius di mana sebagian dari pengetahuan dan pemahaman itu adalah terkait dengan masalah pendidikan (tarbiyah). Ketika kita punya pemahaman religius maka di saat itulah kita dapat mengklaim bahwa perbuatan kita adalah perbuatan religius (amal agama), yakni perbuatan bergantung pada pemahaman.

Pembaca sekalian, terlepas dari perbezaan suku, ras, bangsa, bahasa dll seluruh manusia di bumi ini memiliki sejumlah persamaan. Salah satu di antara persamaan-persamaa itu adalah masalah “tidur”. Dalam riwayat-riwayat kita terdapat cara-cara bagaimana anak-anak kita mesti tidur, bagaimana bentuk tidur kita dst. Semua itu telah dijelaskan agama kita. Namun di sini kita hanya memfokuskan perbahasan kita pada usia di bawah tujuh tahun.
Misalnya kita punya riwayat dari Rasulullah Saw di mana beliau berkata, “Barang siapa yang membaca zikir ini sebanyak tiga kali sebelum tidur, Allah Swt akan menulis pahala 1000 rakaat solat dalam buku amalnya”, tentunya dalam konsepsi tauhid kita tidak mengejar pahala dan pahala sendiri pada hakikatnya – menurut sebuah tafsiran yang lebih tepat – merupakan volume dan dari amal, yakni setara dengan 1000 rakaat solat.

Zikir yang dimaksud adalah “Yaf’alullah ma yasyau biqudratihi wayahkuma ma yuriduhu biizzatihi” zikir ini yang dianjurkan dibaca sebanyak tiga kali, namun ini tidak bolrh kita anjurkan kepada anak 3 tahun sementara subjek bahasan kita adalah umur di bawah tujuh tahun.

Dalam riwayat disebutkan, “Barang siapa yang tidur disuatu tempat sendirian, kemudian Ia mendapat masalah atau terjadi sesuatu pada dirinya, Ia tidak boleh mengecam seseorang kecuali dirinya sendiri”. Ini poin pertama, Oleh itu anak tidak boleh tidur sendirian terpisah dari orang tuanya khususnya di usia 2-5 tahun, tentu usia di sini boleh berbeza-beza. Poin kedua, dianjurkan ketika anak-anak hendak tidur supaya tangan dan mulutnya tidak berminyak kerana para jin akan mengganggunya, poin ketiga, ketika tidur seluruh ruangan jangan gelap yang mana anak boleh takut, poin empat, benda-benda disekitar anak ketika tidur mesti dipindahkan kerana boleh saja mereka bangun tengah malam dan ketika jalan terjatuh, namun poin terpenting di sini adalah anak mesti tidur dekat orang tuanya, sayang sekali sekarang ini sudah menjadi tradisi di mana anak mesti di pisahkan tempat tidurnya atau mempunyai bilik sendiri dengan warna khusus. memisahkan anak dari orang tua khususnya di usia di bawah tujuh tahun secara langsung telah dilarang.

Sandaran kita mengatakan bahawa anak tidak boleh terpisah dari pangkuan tubuh ayah atau ibu adalah tindakan Rasulullah Saw yang kita sebut dengan sirah. Kita menjadikan sirah ini sebagai bukti dan ikutan kita kerana Al Quran telah membenarkan Rasulullah Saw sebagai uswah (teladan) untuk kita. Seorang Arab mendatangi Nabi Saw dan melihatnya sedang mengusap-usap Imam Hasan dan Imam Husai As, orang arab ini sengaja mengatakan ini untuk menyakiti Nabi, laki-laki arab itu berkata, “Aku mempunyai 10 orang putera, hingga sekarang tak satupun di antara mereka yang aku usap dan belai, namun wahai Nabi! Kerana engkau tidak punya putera, Tuhan tidak memberikan anak laki-laki kepadamu, makanya engkau selalu mengusap cucu-cucumu, yakni hal itu engkau lakukan atas dasar hasrat” Nabi Saw lalu menjawabnya, “Tidak, tidak demikian, melainkan bahawa anak dalam usia seperti ini yakni usia 2-4 tahun (Imam Hasan dan Imam Husain saat itu berumur 4 tahun) perlu pada kasih sayang atau kecintaan (mahabbah) fizikal”. Inilah sanad atau sandaran yang kami katakan. Jika dalam kondisi terjaga saja anak memerlukan kecintaan fizikal, yakni perlu dengan pangkuan ayah dan ibu yang kemudian disusuli pula dengan kecintaan non-fizikal, dan kemudian kita dengan mengikuti pemikiran budaya barat membuat dan menyiapkan suatu bilik khusus yang terpisah untuk mereka, tentu sangat berbeza dengan sumber-sumber riwayat kita.

Bahkan dalam hal mimpi buruk pun terdapat petunjuk praktikal untuk itu, yakni di dalam riwayat-riwayat kita telah dijelaskan dan dianjurkan untuk membaca doa-doa tertentu untuk mencegah kita atau anak-anak kita mengalami mimpi buruk. Terkait hal ini dapat dirujuk langsung pada berbagai kitab-kitab seperti kitab Miftahul Falah karya Syaikh Bahai Ra atau kitab Mafatihul Jinan karya Syaikh Abbas al Qummi.

Dalam kaitannya dengan tidur anak, dianjurkan pula agar sebaiknya ibu membacakan ayat-ayat Quran dengan agak keras dan ayat-ayat yang dianjurkan itu memiliki ritma yang lembut dan tentu saja anjuran ini bukan tanpa alasan. Misalnya Surah Tauhid, Imam Ali As mengatakan, “barang siapa yang membacanya sekali maka Allah Swt akan menugaskan (mewakilkan) 50 ribu malaikat untuk menjaganya hingga pagi”. Begitu pula dengan bentuk tidur kita, jika terlentang diatas punggung maka itu adalah tidur para nabi, atau menghadap kekanan atau kalau tidak mampu berbalik kekiri namun jangan tidur dalam posisi diatas perut, Imam Ali mengatakan bahawa hal itu hanya dilakukan orang gila. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *