Pendidikan Anak (26)

 

Pendidikan anak berdasarkan pembahagian waktu dan masa hidup anak 3

Jika kita menginginkan keberhasilan dalam mendidik anak-anak kita sebagai generasi yang unggul, baik dari segi akhlak, agama mahupun pengetahuan. Maka cerminlah pada kehidupan ahlul bait. Jadikanlah mereka sebagai rujukan, teladan dan contoh dalam kehidupan ini kerana mengikuti mereka merupakan anjuran dari Allah swt dan rasulnya untuk mendapatkan kebahagiaan dunia mahupun akhirat. Adapun lanjutan perbahasan sebelumnya mengenai cara yang diajarkan ahlul bait dalam mendidik anak dibawah umur tujuh tahun adalah sebagai berikut:

4. Bermain dan cara mengalihkan perhatiannya

Bermain merupakan keperluan anak-anak terutama anak dibawah umur tujuh tahun. Bermain bagi mereka sesuatu yang sangat menyenangkan kerana dengan bermain mereka menemukan sesuatu yang baru, yang menyenangkan, yang menggembirakan dan yang menghiburkan. Bermain, itulah dunia mereka untuk menemukan kesenangan yang dapat mereka rasakan. Adapun salah satu manfaat bermain adalah mereka menemukan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Contohnya dengan bermain membuat mereka tertawa, berteriak, menangis, senyum dan meronta. Kesemuanya itu adalah respon mereka terhadap apa yang mereka rasakan dan mereka dapatkan pada saat bermain. Pada saat bermain bersama mereka perlu waktu yang kadang kala cukup lama dan membosankan bagi ibubapa. Kadang kala ibubapa harus berbohong atau mencari alasan untuk segera menamatkan masa bermain bersama mereka. Contohnya seorang ayah bermain bersama anaknya ketika si bapa mempunyai pekerjaan lain maka dia berusaha mencari alasan supaya dapat menyudahi permainan tersebut, misalnya dia berkata ayah mahu ke tandas dulu, padahal dia tidak mahu pergi ke tandas tetapi ingin ketempat lain. Nah disinilah cara mengambil perhatian yang harus digunakan, tetapi bukan berbohong atau menipu mereka. Melainkan mengalihkan perhatian mereka dari hal-hal yang lain. Pengalihan perhatian membuat anak-anak terpancing untuk mengerjakan sesuatu yang baru . Kaedah ini pun pernah dilakukan oleh Nabi saw ketika menghadapi dan bermain bersama anak-anak.. Beliau tidak pernah mengecewakan mereka. nabi saw memperlakukan mereka seperti orang dewasa, menghormatinya, menyenangkannya dan membuat mereka tersenyum dan tertawa. Hal ini kita dapat lihat dalam sebuah riwayat. Pada suatu hari ketika nabi saw hendak pergi mengerjakan sholat zuhur, nabi saw melihat sekitar tujuh orang anak-anak sedang bermain dipersimpangan jalan. Jalan menuju masjid tempat biasanya nabi saw mengerjakan solat berjamaah. Seperti biasanya ketika mereka melihat nabi berjalan dari kejauhan, anak-anak tersebut berlari sambil mendekati nabi, ada yang menarik dan memegang gamis nabi, bahkan ada yang naik dibelakang nabi. Nabipun berkata naiklah dibelakangkuku saya adalah unta kalian. Tidak lama kemudian Bilal datang dan mendekati nabi saw. Sambil memakai Bahasa isyarah, nabi memerintahkan kepada Bilal untuk segera mengambil gerdu (sejenis kacang-kacangan) di rumah untuk diberikan kepada anak-anak tersebut sehingga dapat mengalihkan perhatian mereka. Ketika bilal sampai dan memberikan gerdu tersebut kepada nabi, nabi pun berkata kepada anak-anak tersebut “saya ingin memberikan sesuatu kepada kalian, tapi kalian harus turun dari belakangku” serentak anak-anak tersebut turun dari belakang nabi dan nabi memberikan gerdu satu persatu kepada mereka. merekapun sangat senang dan gembira mendapatkan gerdu dari Nabi saw.

Dari cerita di atas, Pesan yang dapat kita petik adalah, bagaimana kaedah yang digunakan oleh Nabi dalam mengalihkan perhatian mereka pada saat bermain, walau dalam keadaan yang tidak memungkinkan sekalipun, (ketika ingin solat) nabi masih memberikan sambutan yang baik tanpa mengecewakan mereka. Hal ini merupakan pelajaran berharga buat ibubapa untuk mengetahui bagaimana kaedah mengalih perhatian dalam bermain kepada anak yang berumur di bawah tujuh tahun tanpa harus berbohong dan menipu mereka.

5. Meneladani seseorang melalui cerita

Kaedah yang berikutnya diajarkan oleh ahlul bait kepada kita dalam mendidik anak di bawah umur tujuh tahun adalah dengan menceritakan perilaku seseorang yang patut dicontohi dan diteladani. anak yang berumur di bawah tujuh tahun mempunyai kebolehan meniru yang cukup tinggi, hal tersebut mereka dapatkan dari apa yang mereka lihat, mereka dengar dan mereka laukan. Jika ibubapa memberi contoh perilaku yang tidak baik maka lambat laun perilaku tersebut akan diikuti oleh mereka. Begitupun jika kita menceritakan tokoh yang agung, dan bersahaja pasti akan mengunggah hati dan perasaan mereka sehingga mereka menjadikan tokoh tersebut sebagai orang-orang yang patut dicontohi dan diteladani. Misalnya menceritakan tentang salah seorang ma’sumin, seperti Nabi saw. Ceritakanlah dengan bahasa yang sederhana yang dapat mereka fahami dengan baik dan benar, misalnya Nabi saw adalah seorang nabi yang selalu menjaga kebersihan pakaiannya, atau sentiasa berdoa pada setiap kali ingin melakukan pekerjaannya. Dengan cerita-cerita tersebut akan menggongcang perasaan mereka dan lambat laun menjadikan nabi saw sebagai teladan dalam setiap perkara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *