Pengenalan Puluhan ribu nabi telah diutus sepanjang sejarah hidup manusia di pelbagai penjuru dunia. Mereka melakukan tugas dengan sebaik-baiknya dalam memberi petunjuk dan mendidik umat, serta meninggalkan berkah yang besar pada mereka. Para nabi telah mendidik masyarakat atas dasar akidah yang benar dan nilai-nilai yang tinggi yang memiliki pengaruh secara tidak langsung kepada umat lainnya. Bahkan sebahagian dari mereka telah berhasil membangun masyarakat mukmin yang berdiri atas landasan Tauhid dan keadilan. Para nabi itu sendiri berperanan sebagai pembimbing dan pemimpin mereka.

Pelajaran 30 – Manusia dan Para Nabi

 

Ketika Al-Quran menyebutkan para nabi terdahulu, menjelaskan sebahagian dimensi kehidupan mereka yang penuh berkah, serta menghilangkan usaha-usaha penyelewengan–secara disengaja mahupun tidak– dari lembaran sejarah mereka yang gemilang, itu bererti bahawa Al-Quran memberi perhatian yang besar terhadap umat manusia mengenai sikap mereka.

Di satu sisi, Al-Quran menjelaskan sikap umat manusia terhadap para nabi Allah dan faktor-faktor yang menyebabkan mereka mengingkari para nabi tersebut. Di sisi lain, Al-Quran memberikan gambaran ehwal petunjuk, hidayah dan pendidikan para nabi dan cara-cara membanteras faktor-faktor kekufuran dan kemusyrikan. Al-Quran juga menjelaskan hubungan-hubungan sebab-akibat dalam pengelolaan masyarakat, khususnya hubungan imbal-balik antara manusia dan para nabi yang meliputi hal-hal penting dan pelbagai manfaat yang membuahkan hasil pendidikan yang unggul.

Perbahasan seperti ini, walaupun tidak berhubungan secara langsung dengan permasalahan akidah dan Kalam, akan tetapi mengingat hal ini dapat menjelaskan permasalahan kenabian dan dapat menghilangkan pelbagai kesamaran, dan mengingat pengaruhnya yang positif berupaya mewujudkan penambahbaikan dan pembinaan umat manusia, serta kandungan pelajaran dari peristiwa-peristiwa sejarah yang sebegitu penting, maka perbahasan mengenai hal itu amat berguna dan diperlukan. Oleh itu, kami akan menjelaskan pelbagai hal penting yang berkaitan pada pelajaran ini.

 

Sikap Umat Terhadap Para Nabi

Ketika para nabi menyeru umat manusia untuk menyembah Allah Yang Esa, mentaati segenap ajaran-Nya, meninggalkan tuhan-tuhan mereka yang batil, menolak ajakan syaitan dan penguasa zalim, memerangi kezaliman, kerosakan, maksiat dan pelbagai perbuatan mungkar, mereka menghadapi penentangan daripada masyarakat, terutama daripada para penguasa yang zalim, orang-orang kaya, orang-orang yang suka berfoya-foya, dan orang-orang yang bangga dengan harta dan kedudukan, atau dengan ilmu, budaya dan pendidikan mereka. Mereka mengerahkan semua tenaga dan kekuatan untuk menghadapi para nabi, menghalang dakwah mereka dan mengajak kelompok-kelompok lainnya untuk bersekongkol dengan mereka dan menghalangi orang-orang dari mengikuti kebenaran.

Akan tetapi secara berangsur-angsur, sebahagian kelompok yang majoritinya berasal daripada golongan bawah menerima dakwah para nabi. Sedikit sekali masyarakat yang terbentuk di atas akidah yang benar, keadilan dan ketaatan kepada perintah Allah dan para nabi-Nya, sebagaimana yang dapat dilihat pada masa Nabi Sulaiman a.s. Meski begitu, sebahagian ajaran para nabi dapat menyusup ke tengah-tengah budaya masyarakatnya lalu menyebar ke masyarakat yang lain sehingga banyak yang mengambil manfaat daripadanya. Bahkan terkadang sebahagian ajaran para nabi itu dilontarkan sebagai penemuan baru para pemimpin kekufuran, padahal mereka menukilnya dari syariat-syariat samawi, kemudian mereka melontarkannya sebagai pandangan yang baru tanpa menyebutkan sumbernya yang asli.

 

Faktor dan Motif Penentangan

Di samping faktor-faktor umum seperti: rasa ingin bebas dan mengikuti hawa-nafsu, terdapat faktor-faktor dan motif-motif lainnya dalam penentangan terhadap para nabi, antara lain: sifat congkak, egoisme, dan bongkak. Selalunya, sifat-sifat ini nampak di kalangan elite dan kaya dalam masyarakatnya.  Faktor lainnya adalah fanatisme, berpegang teguh pada tradisi nenek moyang mereka yang keliru. Demikian pula mempertahankan kepentingan ekonomi dan status sosial merupakan motif yang kuat bagi orang-orang kaya, para penguasa dan para ilmuwan dalam mengambil sikap terhadap para nabi.

Dari sisi lain, kebodohan dan tidak adanya kesedaran dalam masyarakat juga berperanna besar yang membuatkan mereka tertipu dan jatuh ke dalam perangkap thaghut (para penguasa zalim), bertaklid buta kepada para tokoh, dan mengikuti kebanyakan orang, serta menyebabkan manusia lebih condong mengikuti dugaan dan keyakinan mereka serta menolak agama yang hanya diikuti oleh kelompok kecil sahaja.Lebih-lebih lagi, orang-orang mutadayyin (yang taat pada agama) tidak mempunyai kedudukan sosial yang bererti di tengah-tengah masyarakat, bahkan mereka itu adalah orang-orang yang tersingkir dari kaum elite dan majoriti. Di samping itu semua, tekanan daripada pihak-pihak yang berkuasa juga menjadi penyebabnya.

 

Metode Penentangan

Para penentang nabi telah menggunakan pelbagai jenis cara untuk menentang dakwah para nabi. Di antara cara tersebut ialah:

     1.Menghina dan Mengejek

Pada mulanya, mereka berusaha membunuh para nabi, atau menyingkirkan mereka dengan cara menghina dan mencemuh sehingga masyarakat mengambil sikap acuh tak acuh terhadap dakwah para nabi.

      2. Dusta dan Fitnah

Lalu, mereka menggunakan cara-cara bohong, fitnah dan tuduhan yang keji; bahawa Rasul itu, misalnya, dungu atau gila. Tatkala beliau mendatangkan mukjizat, mereka menuduhnya sebagai penyihir. Mereka juga menyebut risalah nabi itu sebagai semata-mata dongeng dan dusta.

       3.Debat dan Mughalathah

Ketika para nabi berbicara di hadapan umat dengan bahasa yang penuh hikmah dan hujah yang kuat, atau berdialog dengan mereka melalui debat sebaik mungkin, menasihati dan mengingatkan mereka akan bahaya kekafiran, kemusyrikan dan pengingkaran, menjelaskan kepada mereka bahawa iman dan ibadah kepada Allah swt. itu akan mendatangkan keuntungan, dan memberikan khabar gembira kepada kaum mukmin dan orang-orang yang beramal soleh akan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Melihat keadaan seperti ini, para tokoh kafir berusaha mencegah umat daripada mendengar ajakan para nabi tersebut. Kemudian mereka berusaha menjawab ajakan tersebut dengan logika yang lemah. Mereka juga berusaha menipu masyarakat dengan retorika yang secara lahiriah menarik, serta mencegah mereka dari mengikuti ajakan para nabi. Untuk itu, biasanya mereka menggunakan cara-cara dan adat yang biasa dipakai oleh nenek moyang mereka dalam menghadapi ajakan para nabi itu, misalnya dengan harta dan kekuatan materi yang mereka miliki.

Kaum penentang selalu menjadikan para pengikut nabi yang miskin dan lemah sebagai dalil atas ketidakbenaran akidah dan perilaku mereka. Kemudian mereka mencari-cari pelbagai alasan untuk membendung dakwah nabi seperti: mengapa Allah tidak mengutus para nabi-Nya itu dari malaikat? Atau, mengapa Allah tidak mengutus malaikat bersama para nabi? Atau, mengapa para nabi itu tidak memiliki kekayaan yang melimpah dan kehidupan yang menonjol? Puncak penentangan ialah tatkala mereka mengatakan: “Kami tidak akan beriman sampai Allah menurunkan wahyu kepada kami sendiri, atau kami dapat melihat Allah dengan jelas dan mendengar perkataan-Nya tanpa perantara”.

           1.Ancaman dan Propaganda

Cara lain yang digunakan oleh kebanyakan umat sebagaimana dikisahkan oleh Al-Quran ialah mengancam para nabi dan pengikut mereka, dan menakut-nakutkan mereka seperti: mengusir mereka dari kota, melempari mereka dengan batu-bata, atau membunuh mereka.Dari sisi lain, mereka menggunakan propaganda yang memikat, terutama melalui harta yang melimpah demi mencegah manusia daripada mengikuti ajakan para nabi.

          2.Kekerasan dan Pembunuhan

Akhirnya, melihat kesabaran dan keteguhan para nabi, dan menyaksikan ketegaran pengikut mereka yang setia, dan setelah merasa putus asa daripada pelbagai sarana dan cara untuk membendung dakwah para nabi, mereka membunuh para nabi itu agar umat manusia terhalang daripada wujud mereka sebagai kurnia Ilahi yang paling besar dan penyelamat masyarakat yang agung.

 

Sunnatullah  dalam Pengelolaan Umat

Sesungguhnya tujuan utama diutusnya para nabi adalah untuk membimbing umat manusia agar memperolehi pengetahuan yang cukup, menyampaikan mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, serta menutupi kekurangan mereka -lantaran terbatasnya akal dan pengalaman mereka- dengan menurunkan wahyu. Singkatnya, tujuan utama itu ialah menyempurnakan hujjah atas mereka.Akan tetapi, ketika para nabi itu diutus, Allah swt dengan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan melalui pengaturan-Nya yang bijaksana, melengkapi mereka dengan keadaan jiwa sehingga mereka dapat menerima dakwah nabi dan membimbing manusia dalam menempuhi jalan kesempurnaan.

Mengingat faktor terbesar pengingkaran, penyimpangan dan penolakan terhadap Allah dan para nabi adalah rasa tidak perlu dan lalai akan sebegitu luasnya keperluan makhluk, maka Allah Yang Maha Bijak menyiapkan keadaan dan sebab-sebab yang mendorong manusia agar dapat menyedari keperluan dan kepentingan mereka, juga untuk menyelamatkan mereka daripada kelalaian, kecongkakan dan fanatisme. Maka itu, Allah menguji mereka dengan pelbagai bentuk ujian, bencana dan musibah agar mereka merasa dan mengakui kelemahannya kemudian tunduk di hadapan Allah swt.

Akan tetapi faktor ini pun tidak berpengaruh secara merata dan menyeluruh, sebab masih banyak sekali manusia -khususnya orang-orang yang memiliki kekayaan materi yang melimpah- yang hidup dalam usia yang panjang dalam kesenangan dan kezaliman terhadap orang lain.Dalam gambaran Al-Quran, mereka bagaikan batu bahkan lebih keras.Mereka tidak sedar akan kelalaian mereka, bahkan senantiasa tenggelam dan terus berjalan dalam kesesatan, sakalipun mereka telah ditimpa pelbagai bencana. Nasihat dan peringatan para nabi tidak lagi bererti bagi mereka sama sekali. Dan ketika Allah mengangkat azab dan bencana daripada mereka lalu mengembalikan nikmat-Nya kepada mereka, mereka berkata: “Kesusahan sudah biasa terjadi di dunia ini, seperti yang menimpa nenek-nenek moyang kita”,  lalu mereka kembali berbuat maksiat dan menumpuk harta kekayaan dan menghimpun kekuatan. Mereka lalai bahawa semua itu merupakan ujian Ilahi yang dapat membuatkan mereka sengsara, baik di dunia mahu pun di akhirat.

Alhasil, ketika pengikut dan pembela para nabi telah mencapai jumlah yang memungkinkan untuk membentuk sebuah masyarakat yang mandiri, dapat menjaga dan membela diri serta memerangi musuh-musuh Allah,mereka diperintahkan untuk melakukan jihad.Ketika itulah azab Allah akan ditimpakan kepada orang-orang yang kafir melalui kekuatan orang-orang mukmin.Jika keadaan tidak memungkinkan,kaum mukmin diperintahkan oleh para nabi  untuk menghindari dan menjauhi orang-orang kafir kerana azab dan bencana Ilahi –melalui jalan lainnya– akan diturunkan ke atas umat penentang yang tidak dapat diharapkan lagi kebaikannya, dan mereka tidak mungkin kembali ke bawah naungan Ilahi.Inilah sunnatullah yang tidak mungkin berubah dan berganti dalam mengatur kehidupan umat manusia. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *