Riwayat-Riwayat yang Menafikan Permintaan Syafaat daripada Seseorang Dinukilkan daripada Imam Ali as bahawasanya beliau berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya orang yang khazanah-khazanah langit dan bumi ada di tangan-Nya telah mengizinkanmu untuk berdoa dan mewajibkan diri-Nya untuk mengabulkanmu, dan memerintahkan supaya meminta kepada-nya sehingga menganugerahkan kepadamu dan memintamu supaya meminta rahmat-Nya sehingga mengampunimu, dan janganlah kamu jadikan seseorang sebagai penghalang antara kamu dan dirinya, dan tidak memaksamu supaya mendekati seseorang yang menjadi pensyafaatmu di sisi-Nya.” [40]

Syafaat (Bhgn.3)

 

Kelompok Wahabi dan Syafaat

Semua Ahlul sunnah termasuk Wahabi menerima adanya syafaat. Pemuka kelompok wahabi, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hadis-hadis tentang syafaat sangatlah banyak dan mutawatir, sebahagian daripada hadis-hadis yang beragam tersebut dikutip dalam Sahih Bukhari dan Muslim dan sebahagian lainnya juga dikutip dalam sunan dan musnad-musnad.” [34] Di tempat yang lain dikatakan,

 

” وَلَهُ صَلَّی اللَّهُ عَلَیهِ وَسَلَّمَ – فِی الْقِیامَةِ – ثَلَاثُ شَفَاعَاتٍ…أَمَّا الشَّفَاعَةُ الثَّالِثَةُ: فَیَشفَعُ فِیمَنْ اسْتَحَقَّ النَّارَ وَهَذِهِ الشَّفَاعَةُ لَهُ وَلِسَائِرِ النَّبِیینَ وَالصِّدِّیقِینَ وَغَیرِهِمْ فَیشفَعُ فِیمَنْ اسْتَحَقَّ النَّارَ أَنْ لَا یدْخُلَهَا وَیشفَعَ فِیمَنْ دَخَلَهَا أَنْ یخْرُجَ مِنْهَا ”

 

“Baginya terdapat tiga syafaat pada hari kiamat….adapun syafaat ketiga: baginda akan mensyafaati orang-orang yang berhak mendapatkan api neraka. Dan syafaat ini baginya dan bagi seluruh para nabi dan siddiqin dan selainnya maka dia mensyafaati orang yang seharusnya layak mendapatkan api ini untuk tidak masuk ke neraka, dan juga mensyafaati orang yang sudah masuk api neraka untuk keluar darinya.” [35]

Mereka menerima permintaan syafaat dari para nabi dan orang-orang soleh ketika masih di dunia, di masa hayat pemberi syafaat dan pada hari kiamat. Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab (w 1285 H) mengatakan, “Meminta syafaat daripada Rasul saww semasa hayatnya kerana doa yang dia panjatkan dan doanya terijabah, ada pun sepeninggal Rasulullah Saww, meminta syafaat daripadanya tidak diperbolehkan.” [36]

Yang menjadi perselisihan antara kelompok wahabi dengan kaum muslimin lainnya adalah permintaan syafaat daripada para nabi dan wali Allah di alam barzakh. Kerana kelompok wahabi tidak meyakini kehidupan barzakh, maka mereka tidak memperbolehkan syafaat jenis ini, bahkan mengkategorikannya sebagai sebuah kesyirikan.

Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan, “Kami meyakini syafaat untuk para nabi pada hari kiamat sesuai dengan apa yang telah dituturkan dalam riwayat-riwayat. Dan demikian juga untuk nabi-nabi lainnya kami meyakininya seperti itu, para malaikat, para wali dan anak-anak kecil sesuai dengan apa yang dituturkan, akan tetapi syafaat adalah milik Allah swt…Kita meminta syafaat harus dari pemiliknya, harus meminta syafaat dari Allah, bukan para pemberi syafaat, yakni tidak mengatakan, wahai Rasulullah, wahai wali-wali Allah! berilah syafaat kami atau kita meminta kepada sejenisnya….dan ungkapan-ungkapan semacam ini, tidak ada seorang pun yang mampu kecuali hanya Allah swt semata. Meminta syafaat dari pemberi syafaat ketika masih di alam barzakh termasuk bagian-bagian yang syirik.” [37]

 

Sanggahan-Sanggahan Terpenting Wahabi

Sanggahan-sanggahan terpenting yang dilontarkan oleh kelompok wahabi adalah sebagai berikut:

Meminta Syafaat daripada Selain Allah adalah Perbuatan Syirik

Meminta syafaat daripada pemberi syafaat umpama memohon kepada selain Allah dan ini adalah syirik dalam ibadah, kerana Allah swt telah berfirman:

 

” فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً ”

“Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. al-Jin: 18)

 

Dalam menjawap hal ini dapat dikatakan bahawa: “Sanggahan ini muncul daripada gambaran yang salah kelompok wahabi tentang erti tauhid dan makna syirik. Dengan analisis pemahaman syirik dan tauhid, maka secara jelas dapat ditemukan bahawa memanggil dan memohon kepada selain Allah itu sendiri tidak melazimkan kesyirikan, dan bahkan bukanlah sebuah keharaman, kerana kesyirikan itu terjadi ketika meyakini akan ketuhanan, rububiyyah dan mandirinya sesuatu. Orang-orang Syiah sama sekali tidak mengatakan kriteria-kriteria tersebut untuk para imamnya atau makhluk lainnya, kecuali hanya untuk Allah swt semata.

Jika syafaat suatu kesyirikan, maka dalam Al-Quran dan sunnah pasti diharamkan. Ketika pensyafaatan para nabi dan pemberi syafaat lainnya pada hari kiamat adalah benar dan diperbolehkan, maka meminta syafaat dari mereka juga benar dan diperbolehkankan.

Meminta doa kepada selainnya menurut kesepakatan semua kalangan kaum muslimin adalah hal yang diperbolehkan, seperti kita meminta kepada seseorang, “Doakanlah untukku”, dengan demikian meminta syafaat daripada seseorang yang telah memiliki izin syafaat dari Allah, dengan cara yang telah dikatakan kepadanya, Isyfa’ li ‘indallah, “Berilah syafaat untukku disisi Allah”, juga akan dibenarkan dan diperbolehkan.

Demi pengampunan dan penghapusan dosa-dosa, Allah swt mengajak manusia datang dan meminta kepada Rasulullah saww supaya beliau memintakan keampunan untuk mereka,

 

“وَ لَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جاؤُکَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّاباً رَحِیماً””

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS.An-Nisa’: 64)

 

Sebahagian orang hendak menjustifikasi ayat ini sedemikian, mereka telah menyakiti Rasulullah saww dan sudah semestinya meminta kehalalan daripada beliau, akan tetapi dengan memperhatikan ayat itu sendiri, maka kesalahan ucapan ini sangatlah jelas: jika pembahasan yang dipaparkan adalah pengampunan Rasulullah saww atas haknya, maka seharusnya menggunakan lafaz “Wa ghafara lahum al-Rasul” dan Rasul mengampuni mereka, sementara dalam ayat di sini memakai, “Wa Istaghfara Lahum al-Rasul”, dan Rasul pun memohon ampun untuk mereka.

Dari sisi lain, ayat yang dijadikan penghujahan kelompok wahabi (Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di samping (menyembah) Allah), pelarangan di sini adalah pelarangan ma’iyyah, yakni jangan menyandingkan seseorang seukuran, setingkat dan sejajar dengan Allah. Objek atau pihak yang dimaksudkan ayat ini adalah kaum musyrikin, yang melihat mandiri terhadap perantara-perantara tersebut. Di sisi lain, jika permintaan kepada selain Allah adalah syirik, maka tidak akan ada perbezaan antara masa seseorang masih hidup atau ketika sudah meninggal, dan ketika di masa hidup juga tidak diperbolehkan meminta doa Rasulullah atau orang lain.

Ada riwayat sahih daripada Ahlul sunnah: Tirmidzi menukil daripada Anas bin Malik bahwa dia meminta Rasulullah supaya memberi syafaat kepadanya pada hari kiamat.

 

” سَأَلْتُ النَّبِی(ص) أَنْ یشْفَعَ لِی یوْمَ القِیامَةِ، فَقَالَ: «أَنَا فَاعِلٌ» قَالَ: قُلْتُ: یا رَسُولَ اللَّهِ فَأَینَ أَطْلُبُک؟ قَالَ: اطْلُبْنِی أَوَّلَ مَا تَطْلُبُنِی عَلَی الصِّرَاطِ”

“Aku meminta Rasulullah supaya memberi syafaat kepadaku pada hari kiamat. Beliau menjawab, “Aku akan melakukannya.” Aku berkata, “Kemana aku harus mencarimu?” “Pertama carilah aku dipinggir sirath (jalan).” [38]

 

Keutamaan Syafaat Atas Allah swt

Al-Quran Al-Karim menganggap syafaat adalah hak khusus Allah swt.

 

“قُلْ لِلَّهِ الشَّفاعَةُ جَميعاً لَهُ مُلْكُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ”

“Katakanlah: Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. Az-Zumar: 44)

 

Dengan demikian, keharusan meminta syafaat hanya kepada Allah swt semata.

 

Jawapan: Syafaat adalah sebuah pengaruh dalam kewujudan, maka merupakan sebuah manifestasi rububiyyah Allah swt dan dengan demikian hanya diutamakan untuk-Nya semata-mata, akan tetapi permasalahan ini tidaklah berlawanan dengan hak syafaat untuk para nabi dan orang-orang soleh, kerana Allah sendiri yang telah memberikan izin kepada mereka untuk memberikan syafaat kepada orang yang layak mendapatkannya, sebagaimana dalam urusan-urusan lainnya juga tidak ada suatu pun yang berpengaruh, kecuali Allah swt memberikan izin pengaruh di situ.

Allah berfiman dalam Alquran, أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمیعاً “ Bahawa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya” (QS. Al-Baqarah: 165), ayat ini bererti bahawa semua kekuatan yang ada di jagad raya adalah milik Allah semata-mata dan kewujudan lainnya dengan izin dan kehendak-Nya dan memiliki kekuatan (Qudrat) dengan apa yang Allah telah berikan kekuatan kepada mereka dan setelah Allah memberi kekuatan kepada makhluk, maka dapat meminta bantuan kepadanya. Ayat لِلّٰهِ اَلشَّفٰاعَةُ جَمِیعاً “ Syafaat itu kepunyaan Allah semuanya”, juga bererti semua syafaat adalah milik Allah swt, dan jika Allah melihat kemaslahatan dan memberikan izin syafaat kepada makhluk, maka dapat meminta dari makhluk tersebut, dari izin yang telah diberikan oleh Allah kepadanya yang digunakan dalam hak orang ini.

 

Menyerupai Perbuatan Kaum Musyrikin

Dalam Al-Quran Al-Karim Allah swt menyebut musyriknya kaum musyrikin kerana meminta syafaat kepada selain Allah,

 

” وَ یعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا یضُرُّهُمْ وَ لا ینْفَعُهُمْ وَ یقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ”

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

 

Jawapannya adalah: Ada pun kaum musyrikin di era risalah yang mengatakan maqam syafaat untuk berhala dan sembahan-sembahan mereka adalah hal yang tidak diragukan lagi. Namun apa-apa yang dituturkan dalam ayat ini, yang mana mereka juga menyembah berhala-berhala tersebut dan juga mengatakan maqam syafaat untuknya, dan keyakinan akan syafaat seiring dengan penyembahan mereka menyebabkan kecelakaan kepada mereka.

Kaum musyrikin mengatakan hak syafaat dengan tanpa batasan, syarat dan tanpa dalil untuk berhala-berhala tersebut, yang mana Allah swt tidak memberikan maqam seperti ini untuk mereka, dan dari satu sisi mereka meyakini akan ketuhanan mereka dan menyembah mereka. Akan tetapi jika keyakinan akan maqam syafaat dalam hak seseorang di mana Allah telah memberikan hak ini untuknya dan penggunaannya pun juga dengan izin-Nya (mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah), maka sanggahan semacam ini tidaklahtepat. Dari sisi lain, tidak ada seorang pun yang mengatakan maqam uluhiyyah untuk para pemberi syafaat sehingga menyembah mereka dan perbuatannya seperti kaum musyirikin dalam ayat di atas.

Sudah jelas bahawa sekadar menghormati dan memuliakan, mencium jerigi-jerigi besi yang membatasi haram (tempat suci) haram para maksum yang dengan tanpa meyakini ketuhanan dan uluhiyyah tidak dikategorikan sebagai ibadah, dan jika demikian, maka memuliakan dan mencium tangan kedua orang tua atau jilid Al-Quran juga harus dikategorikan sebagai menyembah hal-hal tersebut.

Point lain di mana berhala-berhala tersebut dibuat daripada batu-bata dan kayu tidak memiliki izin dari Allah swt untuk menghantarkan manfaat atau mudarat dan ini adalah kata-kata para penyembah berhala yang meyakni pengaruh batu-bata dan kayu-kayu tersebut. Dalam hal ini pengaruh yang ada dalam syafaat para pemberi syafaat dengan izin Allah benar-benar sangatlah berbeza. [39]

Dalam ayat ini, Allah berfirman kepada para penyembah berhala, “Kalian telah mengatakan maqam untuk berhala-berhala tersebut di mana Aku tidak memberikannya kepada mereka, apakah dengan hal ini kalian hendak mengkhabarkan Allah tentang sesuatu (pengaruh berhala-berhala) yang tidak ada khabar darinya” dan masalah ini dengan permintaan syafaat kepada para wali-wali Allah sangatlah asing.

Di penghujung, ayat ini sama sekali tidak mengetengahkan pembicaraan tentang permintaan syafaat, namun berbicara tentang keyakinan syafaat berhala-berhala,

 

” یقُولُونَ هٰؤُلاٰءِ شُفَعٰاؤُنٰا عِنْدَ اَللّٰهِ ”

“Mereka berkata: Mereka adalah para pemberi syafaat di sisi Allah”,

 

dan tidak mengatakan

 

” یقُولوُنَ اِشْفَعُوا لَنا عِنْدَ اللّهِ ”

“Mereka berkata: Syafaati kami di sisi Allah”.

 

Dengan demikian, jika hujah kelompok wahabi atas ayat ini benar, maka harus dikatakan bahawa keyakinan terhadap syafaat secara mutlak adalah syirik dan masalah ini juga mencakupi kelompok wahabi sendiri, kerana mereka juga menerima asas syafaat.

 

Catatan Kaki

34.Majmu Fatawa Ibn Taimiyyah, jild. 1, hlm. 314.

35.Majmu al-Fatawa, jild. 3, hlm. 147.

36.Kitab al-Tauhid wa Qurrah Uyun al-Muwahhidin, hlm. 258.

37.al-Durar al-Saniyyah, jild. 1, hlm. 231.

38.Shahih Tirmidzi, jild. 4, hlm. 621, bab ma ja’a fi Sya’ni al-Shirath.

39.Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi (QS, Yunus: 18).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *