Imam Hasan, Khalifah Ke-5(2)

Ceramah Imam Hasan as.

Imam Hasan as. adalah seorang pidato ulung yang mampu berceramah secara spontan dan pandai menyusun rangkaian kata yang indah. Berikut ini sebagian dari ceramahnya:

1. Pernah Imam Ali as. menyuruh Imam Hasan as. untuk menyampaikan ceramah di hadapan khalayak. Ia segera naik mimbar dan menyampaikan ceramah berikut ini:
Wahai manusia, fahamilah ketetapan Tuhan kalian. Sesungguhnya Allah swt. telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imrân atas semesta alam ini. Mereka adalah keturunan dari sebahagian yang lain. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kami adalah anak cucu Adam, keluarga Nuh, pilihan dari keluarga Ibrahim, keturunan dari Isma’il, dan keluarga Muhamamd saw. Kami di tengah-tengah kalian bagaikan langit yang tinggi, bumi yang terhampar, matahari yang bersinar, dan laksana pohon zaitun (tidak ke barat dan tidak ke timur) yang minyaknya diberkahi. Nabi adalah pokoknya, Ali adalah cAbângnya, dan kami adalah buahnya. Barang siapa yang berpegangan kepada salah satu cAbângnya, niscaya ia akan selamat. Dan barang siapa yang meningalkannya, maka ia akan terjerumus ke dalam neraka ….”

2. Salah satu ceramah Imam Hasan as. yang sangat indah adalah ceramah berikut ini. Dalam ceramah ini, ia memaparkan masalah akhlak dan budi pekerti yang mulia:
Ketahuilah bahwa akal adalah benteng, kesabaran adalah hiasan, menepati janji adalah kehormatan, ketergesa-gesaan adalah kebodohan, kebodohan itu adalah kelemahan, berteman dengan ahli dunia adalah kehinaan, dan bergaul dengan orang-orang fasik adalah kebinasaan. Barang siapa yang meremehkan saudaranya, maka rosaklah harga dirinya. Tidak ada yang rosak kecuali orang-orang ragu. Sementara orang-orang yang mendapat petunjuk akan selamat. Yaitu mereka yang sedikit pun tidak pernah memprotes Allah tentang ajal mereka dan tidak pula tentang rezeki mereka. Oleh karena itu, kesucian mereka sempurna dan rasa malu mereka juga sempurna. Mereka bersabar diri sehingga rezeki mereka datang sendiri. Mereka sama sekali tidak menjual agama dan kehormatan mereka sedikit pun dengan harta dunia. Mereka pun tidak mencari sedikit pun dari dunia itu dengan jalan bermaksiat kepada Allah. Termasuk kesempurnaan akal dan kehormatan seseorang adalah ia bersegera memenuhi hajat saudara-saudaranya sekalipun mereka tidak mengutarakannya. Akal adalah pemberian Allah yang paling baik kepada hamba-Nya. Kerana dengan akal, ia akan selamat di dunia dari mara bahayanya dan akan selamat dari siksa akhirat.
Dikisahkan bahawa para sahabat Rasulullah saw. pernah menceritakan seseorang di hadapan Rasulullah saw. dengan ibadahnya yang bagus. Rasulullah saw. bersabda: “Lihatlah akalnya. Kerana sesungguhnya seorang hamba akan diberi pahala pada hari kiamat kelak sesuai dengan kadar akalnya. Berbudi luhur adalah tanda bahawa akalnya sehat ….”

Ibadah Imam Hasan as.

Imam Hasan as adalah seorang ahli ibadah pada masanya. Para perawi hadis berkata tentang hal ini: “Kami tidak pernah melihat Imam Hasan pada setiap waktu melainkan ia sentiasa berzikir kepada Allah swt.”
Apabila disebutkan tentang syurga dan neraka, Imam Hasan as. tampak gementar bagai disengat kalajengking. Kemudian ia memohon surga dan berlindung dari api neraka. Apabila disebutkan tentang kematian dan hal-hal yang mengiringinya seperti kebangkitan dan hari mahsyar, ia menangis seperti orang yang takut dan bertaubat. Dan apabila disebutkan mengenai realiti penampakkan amal di hadapan Allah, ia pingsan sejenak kerana takutnya.
Kisah-kisah ini melukiskan betapa ketaatan Imam Hasan as. sangat tinggi dan betapa ia takut kepada Allah swt.

Wudu dan Salat Imam Hasan as.

Apabila Imam Hasan as. ingin berwudu, kondisi fisik dan batinnya berubah karena takut kepada Allah swt. sehingga wajahnya tampak pucat dan anggotanya gementar. Ia pernah ditanya tentang hal itu. Ia menjawab: “Sudah pasti tubuh orang yang berdiri di hadapan Tuhan ‘Arsy merasa gementar dan wajahnya pucat.”
Apabila selesai berwudu dan hendak memasuki masjid, Imam Hasan as. berkata dengan suara keras: “Ya Tuhanku, tamu-Mu berada di ambang pintu-Mu. Wahai Dzat yang berbuat baik, telah datang orang yang berbuat buruk. Maka maafkanlah segala keburukan yang ada pada diri kami dengan keindahan anugerah yang ada di sisi-Mu, wahai Yang Maha Mulia.”
Ketika Imam Hasan as. mulai mengerjakan salat, ia tampak merasa takut dan gementar sehingga seluruh anggota tubuhnya tampak bergetar.
Manakala selesai mengerjakan salat Shubuh, Imam Hasan as. tidak berbicara sedikit pun kecuali zikir kepada Allah hingga matahari terbit.

Ibadah Haji Imam Hasan as.

Salah satu manifestasi ibadah dan ketaatan Imam Hasan as kepada Allah swt. adalah ibadah haji ke Baitullah sebanyak dua puluh lima kali dengan berjalan kaki. Sementara unta-unta dituntun di hadapannya.
Imam Hasan as. pernah ditanya mengapa ia sering pergi haji dengan berjalan kaki. Ia menjawab: “Aku merasa malu kepada Tuhanku, jika mendatangi rumah-Nya tidak dengan berjalan kaki.”

Imam Hasan as. Bersedekah

Imam Hasan as. menyedekahkan harta bendanya yang sangat berharga di jalan Allah demi mencapai ridha dan ketaatan kepada-Nya. Ia pernah menyedekahkan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya sebanyak dua kali. Malah ia pernah menyedekahkan seluruh hartanya karena Allah sebanyak tiga kali, sehingga ia tidak memiliki cara lain untuk bersedekah kecuali dengan menyedekahkan satu sandalnya dan menahan sandal yang lain untuk dirinya.
Ini adalah sebagian contoh dari ketaatan Imam Hasan as. kepada Allah swt. Dan ibadahnya ini adalah sebuah gambaran tentang ibadah datuk dan ayahnya, Sayyidul Muttaqîn wal Muwahhidîn.

Imam Hasan as. Menghadapi Tuduhan

Imam Hasan as. dituduh banyak kahwin. Menurut sebuah riwayat, ia pernah kawin dengan tiga ratus orang wanita. Semua itu adalah merupakan fitnah belaka yang tidak memiliki kenyataan. Tuduhan itu adalah ciptaan yang dibuat oleh Manshûr Ad-Dawâniqî pada saat keturunan Imam Hasan as. mengadakan perlawanan terhadapnya, dan hampir gerakan perlawanan ini meruntuhkan bangunan kerajaannya. Manshûr telah berbuat penipuan atas Imam Amirul Mukminin as. dan keturunannya dengan tuduhan-tuduhan palsu.
Seandainya semua riwayat buatan itu benar, tentunya Imam Hasan as. mempunyai anak yang sangat banyak sesuai dengan bilangan istrinya itu. Namun kenyataannya, para ahli nasab berasumsi bahawa putra-putri Imam Hasan as. hanya berjumlah dua puluh dua orang. Hal ini sama sekali tidak sesuai dengan jumlah wanita yang mereka duga telah dikahwini oleh Imam Hasan.
Selain itu, mereka juga menuduh Imam Hasan as. dengan banyak melakukan perceraian. Seandainya tuduhan itu benar, pasti ia telah mencerai istrinya yang bernama Ja’dah binti Asy’ast. Telah dibuktikan kepalsuan semua tuduhan itu dengan dalil yang mudah dalam kitab, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 2.

Kekhalifahan Imam Hasan as.

Ketika dunia Islam ditimpa musibah dan duka yang mendalam dengan syahadah Imam Amirul Mukminin as., pelopor keadilan itu, Imam Hasan as. menduduki kursi kekhalifahan Islam pada kondisi yang sangat genting dan kritis itu. Bala tentara Imam Hasan as. dikenal sebagai prajurit pembangkang dan tidak patuh. Mereka ingin hidup santai dan telah penat menghadapi peperangan. Sikap seperti itu pernah dilakukan oleh kaum Khawârij yang telah menjatuhkan hukum kafir dan keluar dari agama atas Imam Amirul Mukminin Ali as. Mereka itu bagaikan ulat-ulat dan serangga yang menggerogoti pasukan Imam Hasan as. dan menyeru untuk membelot dan keluar dari wilayah ketaatan dan kepemimpinannya.
Peristiwa yang paling menyakitkan dan menyedihkan Imam Hasan as. adalah pembelotan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh komander pasukannya, yaitu ‘Ubaidillah bin Abbâs. ‘Ubaidillah adalah komander pasukan bersenjata. ‘Ubaidillah bin Abbâs bersama rakan-rakannya telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta kaum muslimin. Mereka mengirim surat kepada Mu’âwiyah dan menyatakan kesetiaan dan ketaatan untuk menjalankan segala perintah. Bila Mu’âwiyah menginginkan, mereka siap untuk membunuh Imam Hasan as. atau menyerahkannya kepada Mu’âwiyah sebagai tawanan.
‘Ubaidillah bin Abbâs, anak kepada bapa saudara Imam Hasan as. itu, telah menerima sejumlah wang dari Mu’âwiyah. Pada suatu malam hari yang gelap gelita, ‘Ubaidillah pergi menjumpai Mu’âwiyah. Secara diam-diam, ia meninggalkan bala tentara Imam Hasan, padahal kondisi mental mereka tengah goncang akibat berbagai fitnah. ‘Ubaidillah telah membuka jalan pengkhianatan bagi orang-orang yang berjiwa lemah dan beriman rapuh, sehingga dengan mudah mereka menyeberang dan bergabung dengan pasukan tirani Mu’âwiyah. Dengan terjadinya bencana dan musibah itu, bumi menjadi sempit bagi Imam Hasan as. Ketika Imam Hasan tengah mengerjakan salat dan berdiri di hadapan Allah swt., seorang pengkhianat dari pasukannya menikam bahagian pahanya.
Imam Hasan as. menghadapi berbagai ujian dan fitnah yang berat ini dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Pada saat itu, ia dihadapkan pada salah satu dari dua pilihan yang tidak ada ketiganya, yaitu:
Pertama, mengadakan perlawanan terhadap Mu’âwiyah dengan bala tentara yang sudah lemah dan tidak ada harapan untuk menang. Dengan perlawanan ini, Imam Hasan as. tentunya akan terkorban, juga seluruh Bani Hâsyim, dan para pengikut setianya yang selalu siap membela agama dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Dan yang jelas, apabila Imam Hasan as. diserahkan kepada Mu’âwiyah sebagai tawanan, Mu’âwiyah pasti akan membebaskannya. Dengan perlakuan semacam itu, Mu’âwiyah dapat menaikkan popularitinya seperti perlakuan Rasulullah saw. terhadap orang-orang yang telah ia bebaskan pada hari pembebasan kota Mekah. Dengan demikian, Bani Umaiyyah dapat memperoleh kemenangan yang gemilang. Sementara pengorbanan Imam Hasan as. di mata masyarakat umum menjadi sia-sia dan tidak bererti sama sekali.
Kedua, berdamai dengan Mu’âwiyah, walaupun hal itu bagaikan kotoran di mata dan makanan yang tersendat di tekak, dan membiarkan Mu’âwiyah dengan segala maharajalelanya, lalu menyingkap segala kedurjanaan itu di hadapan masyarakat Islam. Sebagai akibatnya, kejahatan Mu’âwiyah terhadap Islam akan terungkap, aibnya akan tersingkap dan segala tipu dayanya akan terbukti.
Kenyataanya memang demikian. Semua itu terbukti dengan jelas dan tidak terdapat kesamaran sedikit pun. Setelah menandatangani perdamaian, Mu’âwiyah naik ke atas mimbar dan berpidato di hadapan masyarakat Irak. Ia menegaskan: “Hai penduduk Irak! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak memerangi kalian agar kalian mengerjakan salat atau menunaikan zakat, tidak juga agar kalian berpuasa atau menunaikan ibadah haji. Aku memerangi kalian hanya agar aku dapat berkuasa dan memerintah kalian. Allah telah menganugerahkan kekuasaan kepadaku, tetapi kalian tidak menyukainya. Ketahuilah sesungguhnya setiap kesepakatan yang telah kuberikan kepada Hasan bin Ali, kini aku letakkan di bawah kedua tapak kakiku ini.”
Perhatikanlah Mu’âwiyah ini. Ia telah menyingkap kejahiliahannya sendiri dan menghancurkan nilai-nilai Islam. Perdamaian dengan Imam Hasan as. tidak memiliki manfaat kecuali kejahiliahan dan kekotoran hati Mu’âwiyah terungkap; roh Islam dan hidayah tidak berbekas di dalam hatinya sama sekali. Mu’âwiyah tak ubahnya seperti ayahnya, Abu Sufyân, musuh pertama Rasulullah saw., dan juga ibunya, Hindun yang telah mengorek hati penghulu para syahid, Hamzah, dan meratahnya dengan keji dan kejam. Permusuhan terhadap Islam dan kedengkiannya kepada Rasulullah saw. telah ia warisi dari kedua orang tuanya itu.
Yang jelas, Imam Hasan as. telah memilih jalan damai yang merupakan ketentuan syariat. Sekiranya tidak demikian, maka umat Islam telah mengalami berbagai bencana dan petaka yang hanya diketahui oleh Allah swt.
Dalam perdamaian tersebut, Imam Hasan as. mensyaratkan kepada Mu’âwiyah beberapa syarat yang telah berhasil menegaskan bahawa ia tidak berhak memiliki kekuasaan syar’î. Di antara syarat-syarat itu adalah hendaknya ia tidak menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin. Ini bererti bahawa ia bukan penguasa yang telah mendapatkan legitimasi syar’î dan bukan pemimpin bagi orang-orang yang beriman. Ia hanyalah penguasa yang zalim dan tiran.
Syarat yang lain adalah ia tidak boleh melangkahi Al-Qur’an dan Sunah sedikit pun, baik dalam urusan politik mahupun tingkah lakunya sehari-hari. Seandainya Imam Hasan as. yakin dengan keislamannya, tentu ia tidak akan memberikan syarat-syarat seperti itu. Imam Hasan as. juga memberikan syarat-syarat lainnya yang bertentangan dengan hawa nafsu Mu’âwiyah. Mu’âwiyah tidak menepati satu pun dari syarat-syarat yang telah diajukan oleh Imam Hasan itu. Ia telah menginjak-injak semua syarat itu. Hal ini telah kami uraikan dalam kitab kami.
Hayâh Al-Imam Hasan as.
Akhirnya, setelah peristiwa perdamaian tersebut terjadi, terbongkarlah topeng politik Mu’âwiyah yang dengan terang-terangan menentang Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah saw. Ia membunuh orang-orang yang tidak berdosa dan orang-orang saleh, seperti Hujr bin ‘Adî, ‘Amr bin Al-Hamaq Al-Khuzâ’î, dan para sahabat yang lain dengan sewenang-wenang. Dia juga merusak kehormatan kaum muslimin, menawan kaum wanita, merampas harta benda, dan mengangkat orang-orang durjana sebagai pegawai dalam pemerintahan, seperti Ibn ‘Ash, Ibn Syu’bah, Ibn Arthah, Ibn Hakam, Ibn Marjânah, dan Ibn Sumayyah. Orang terakhir ini telah dipisahkan oleh Mu’âwiyah dari ayahnya yang sah, yaitu ‘Ubaid Ar-Rûmî, kemudian menisbahkan kepada ayahnya sendiri yang durjana, Abu Sufyân. Mu’âwiyah telah memberikan kekuasaan untuk memerintah penduduk Syi’ah Irak kepada anak durjana ini. Dengan kekuasaannya itu, ia telah menimpakan berbagai kesengsaraan kepada mereka, menyembelih anak-anak mereka, mempermalukan kaum wanita mereka, membakar rumah-rumah mereka, dan merampas harta benda mereka ….
Salah satu kejahatan dan kezaliman Mu’âwiyah yang terbesar adalah usahanya untuk membunuh cucu Rasulullah saw., Imam Hasan as. Mu’âwiyah telah memberi racun untuk Imam Hasan as. melalui tangan istrinya yang bernama Ja’dah bin Asy’ats. Mu’âwiyah telah merayu Ja’dah dan berjanji untuk menikahkannya dengan Yazîd. Ja’dah terkutuk itu memberikan racun, sementara Imam Hasan as. sedang puasa. Racun itu merobek-robek usus Imam Hasan as. dengan cepat. Tidak lama serelah itu, rohnya yang suci segera kembali ke haribaan Tuhannya dengan membawa berbagai musibah, duka, dan kesedihan yang ditimpakan oleh Mu’âwiyah. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn!
Mu’âwiyah mengakhiri kejahatan dan kedurjanaannya dengan mengangkat anaknya yang terkutuk, Yazîd, sebagai khalifah kaum muslimin. Yazîd telah merosak dan menghancurkan agama dan dunia umat Islam. Tidak ada kejahatan pun melainkan ia telah lakukan. Di antara kejahatan-kejahatan itu adalah tragedi Thuff di Mekah dan tragedi Harrah, serta berbagai kejahatan lainnya yang telah mengubah kehidupan muslimin menjadi neraka Jahanam yang sulit dibayangkan.

Catatan Kaki:

Kanz Al-‘Ummâl, jilid 7, hal. 104; Majma’ Az-Zawâ’id, jilid 9, hal. 176.
Shahîh Al-Bukhâri, bab Manâqib Al-Hasan wa Al-Husain, jilid 3, hal. 1370; Shahih At-Tirmidzî, jilid 2, hal. 207; Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, jilid 8, hal. 34.
Ash-Shawâ’iq Al-Muhariqah, hal. 82; Hilyah Al-Awliyâ’, jilid 2, hal. 35
Al-Istî’âb, jilid 2, hal. 369.
Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, jilid 8, hal. 35; Fadhâ’il Al-Ashhâb, hal. 165.
Kanz Al-‘Ummâl, jilid 6, hal. 222.
Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, jilid 8, hal. 33.
Al-Ishâbah, jilid 2, hal. 12.
As-Siyâsah Asy-Syar’iyah, hal. 7.
Al-Ahkâm As-Sulthâniyyah, hal. 4, mukadimah ke-135.
QS. Al-A’râf [7]:155.
QS. An-Nisâ’ [4]:153.
Bihâr Al-Anwâr, jilid 13, hal. 127.
Manâqib Ibn Syahri ?syûb, jilid 2, hal.149; Al-Kâmil, karya Al-Mubarrad, jilid 1 hal. 190.
Târîkh Al-Khulafâ’, karya As-Suyûthî, hal. 73.
A’yân Asy-Syi’ah, jilid 4, hal. 24.
Maqtal Al-Husain, karya Al-Khârazmî, jilid 1, 147.
Syarah Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadîd, jilid 4, hal. 5.
Nûr Al-Abshâr, hal. 111.
A’yân Asy-Syi’ah, jilid 4, hal. 89-90.
Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, jilid 8, hal. 38.
Ath-Thabaqât Al-Kubrâ, karya Asy-Sya’rânî, jilid 1, hal. 23; Ash-Shabbân, hal. 117.
Târîkh Ibn ‘Asâkir, jilid 4, hal. 219.
Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 1, hal. 330.
An-Nihâyah, karya Ibn Atsîr, jilid 3, hal. 321.
Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 2, hal. 333.
hal. ini telah kami paparkan pada jilid ke-2 buku kami, Hayâh Al-Imam Hasan as.
Syarah Nahjul Balûghah, jilid 18, hal. 89.
Idem.
Nahj As-Sa’âdah, jilid 8, hal. 280.
Kasyf Al-Ghummah, jilid 2, hal. 197.
Bihâr Al-Anwâr, jilid 75, hal. 106.
At-Tadzkirah, karya Ibn Hamdûn, hal. 25.
Jalâ’ Al-‘Uyûn, jilid 1, hal. 328.
Irsyâd Al-Qulûb, hal. 239.
Amâlî Ash-Shadûq, hal. 108.
A’yân Asy-Syi’ah, jilid 4, hal. 11.
Amâlî Ash-Shadûq, hal. 108.
Amâlî Ash-Shadûq, hal. 108.
Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 1, hal. 327.
Bihâr Al-Anwâr, jilid 10, hal. 93.
Al-Lum’ah, kitab Al-Hajj, jilid 2, hal. 170.
A’yân asy-Syi’ah, jilid 4, hal. 11.
Usud Al-Ghâbah, jilid 2, hal. 12.
Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 2, hal. 453.