Imam Hasan, Khalifah Ke-5(1)

d. Karakteristik Imam

Seorang imam harus memiliki syarat-syarat berikut ini:
1. Adil dengan seluruh syaratnya; yakni menghindari dosa-dosa besar dan tidak melakukan dosa-dosa kecil secara terus menerus.
2. Memiliki ilmu yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam seluruh bidang dan mengetahui sebab-sebab turun dan hukum Al-Qur’an.
3. Panca indera yang sihat, seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan, agar ia dapat melakukan sesuatu yang ia ketahui secara langsung. Begitu pula disyaratkan supaya anggota badannya yang lain sehat.
4. Memiliki wawasan yang luas untuk mengatur rakyat dan kemaslahatan umum.
5. Berani, tegar, mampu menjaga negara Islam, dan berjuang melawan musuh.
6. Seorang imam harus berasal dari keturunan Quraisy.
Syarat-syarat dan karakteristik di atas telah dijelaskan oleh Al-Mâwardî dan Ibn Khaldûn.
7. ‘Ishmah (keterjagaan dari dosa). Menurut ahli teologi, defini ‘ishmah adalah anugerah Ilahi (luthf) yang Dia berikan kepada hamba pilihan-Nya. Dengan itu, ia tercegah dari perbuatan dosa dan kesalahan, baik dosa yang dilakukan dengan sengaja mahupun lupa.
Syi’ah sepakat bahawa seorang imam harus memiliki karakter ‘ishmah. Dalil mereka adalah hadis Tsaqalain. Dalam hadis ini, Rasulullah saw. telah mengaitkan Al-Qur’an dan ‘Itrah. Sebagaimana Al-Qur’an terjaga dari kesalahan dan kekeliruan, begitu pula dengan ‘Itrah yang suci. Jika tidak demikian, maka kaitan dan penyamaan antara kedua pusaka itu tidak bererti.
Seluruh karakter itu tidak dapat terpenuhi kecuali pada diri para imam Ahlul Bait as. sebagai ketua dan pemelihara Islam serta penunjuk jalan kepada keridhaan dan ketaatan kepada Allah swt.
Sejarah dan praktikal para imam Ahlul Bait as. sendiri membuktikan bahawa mereka terjaga dari setiap kesalahan dan penyimpangan. Berbagai peristiwa telah membuktikan realit ini. Lebih dari itu, seluruh peristiwa itu juga menegaskan bahawa mereka adalah pribadi-pribadi agung yang tidak ada tandingannya dalam sejarah umat manusia. Hal itu kerana mereka memiliki kemuliaan yang agung, ketakwaan, dan kepedulian yang tinggi terhadap agama.

e. Penentuan Imam

Syi’ah berpendapat bahawa penentuan seorang imam tidak berada di tangan umat manusia dan tidak pula di tangan Ahl Al-Hall wa Al-‘Aqd (Badan Penentu Kemaslahatan dan Kesepakatan Bersama). Teori pemilihan dalam mengangkat seorang imam tidak dapat dibenarkan. Kita mustahil dapat memilihnya. Imâmah tak ubahnya seperti kenabian. Sebagaimana kenabian tidak dapat ditentukan oleh umat manusia, demikian pula halnya dengan imâmah. Hal itu kerana ‘ishmah sebagai syarat utama dalam imâmah tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah swt. yang mengetahui rahsia setiap jiwa insan.
Hujah keluarga Muhammad dan Mahdî umat ini afs. telah menjelaskan konsep ini dengan sebuah dalil ketika ia berdialog dengan Sa’d bin Abdillah. Sa’d pernah bertanya kepadanya tentang sebab mengapa umat manusia tidak boleh memilih imam mereka sendiri. Imam Mahdî afs. menjawab: “Mereka memilih seorang penegak kebaikan ataukah keburukan?”
“Tentu memilih penegak kebaikan”, jawab Sa’d singkat.
“Mungkinkah pemilihan mereka itu jatuh kepada seorang pelaku keburukan, maka tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui apa yang tersirat di dalam hati orang lain; kebaikan ataukah keburukan?”, kata Imam Mahdî afs.
“Ya, boleh terjadi”, jawab Sa’d pendek.
Imam Mahdî afs. menambah: “Itulah penyebabnya. Aku akan menjelaskan kepadamu dengan dalil yang dapat diterima oleh akalmu. Jawablah pertanyaanku ini. Terdapat para rasul yang telah dipilih oleh Allah dan diturunkan kitab kepada mereka, lalu mereka diperkuat dengan wahyu dan ‘ishmah. Karena itu mereka menjadi penuntun umat dan lebih jitu dalam menentukan pilihan, seperti Mûsâ dan Isa. Sekarang dengan kesempurnaan akal dan ilmu mereka berdua, apakah mungkin pilihan mereka jatuh kepada seorang munafik, sementara mereka meyakini bahwa dia adalah seorang mukmin?”
“Jelas tidak mungkin”, jawab Sa’d.
Imam Mahdî afs menambah: “Lihatlah Mûsâ. Ia adalah Kalîmullâh. Dengan akalnya yang tinggi, ilmunya yang sempurna, dan wahyu pun turun kepadanya, ia telah memilih orang-orang terkemuka di antara kaumnya dan orang besar dalam bala tentaranya untuk menemui Tuhannya sebanyak 70 orang. Keimanan dan keikhlasan orang besar pilihan itu tidak diragukan lagi. Tetapi ternyata pilihannya itu jatuh kepada orang-orang munafik.
Allah swt. berfirman, ‘Dan Mûsâ memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.’ Dalam ayat lain Allah swt. berfirman, ‘Mereka berkata, ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.’ Maka mereka disambar petir kerana kezaliman mereka.’ Jika kita melihat bahawa pilihan orang yang telah dipilih Allah swt. untuk tugas kenabian ternyata jatuh kepada orang yang tidak layak, bukan kepada orang yang baik, tetapi ia menilai bahawa orang itu adalah orang baik, maka kita tahu bahawa pemilihan itu harus berada di tangan Dzat yang mengetahui segala yang tersembunyi di dalam dada dan jiwa.”
Sesungguhnya kemampuan manusia tidak mampu untuk mengetahui kemaslahatan yang dapat membawa umat kepada kebahagiaan. Oleh itu, pemilihan imam itu tidak mungkin berada di tangan manusia, tetapi di tangan Allah yang mengetahui segala rahsia.
Inilah gambaran umum mengenai imâmah. Untuk lebih detailnya, pembaca budiman boleh merujuk buku-buku teologi.

Ketinggian Akhlak Imam Hasan as.

Imam Hasan as. mewarisi akhlak datuknya yang memiliki kelebihan atas seluruh nabi dengan ketinggian akhlaknya. Perawi hadis banyak meriwayatkan tentang keutamaan akhlaknya. Di antaranya ialah kisah berikut ini:

a. Pada suatu hari, seseorang yang berasal dari Syam melewati Imam Hasan as. Orang itu mencela dan menghina Imam Hasan as. Imam Hasan diam dan tidak membalasnya. Setelah orang itu selesai lontar celaannya, Imam Hasan mendatanginya dengan kelembutan dan senyum yang lebar. Imam Hasan as. berkata kepadanya: “Hai Syaikh, aku yakin Anda adalah orang asing. Jika Anda meminta sesuatu dari kami, pasti kami akan berikan. Jika Anda memerlukan petunjuk, niscaya kami akan beri petunjuk. Jika Anda meminta untuk memikul suatu barang, pasti kami akan pikul. Jika Anda lapar, kami pasti beri makan. Jika Anda memerlukan hajat, kami akan penuhi. Jika Anda terusir, kami siap melindungi.”
Imam Hasan selalu bersikap lemah lembut terhadap orang Syam itu sehingga membuatnya tercengang. Orang itu tidak mampu menjawab sepatah kata pun. Ia merasa hairan bagaimana harus meminta maaf kepada Imam Hasan untuk kesalahan yang telah dilakukannya. Akhirnya ia berkata: “Allah lebih mengetahui di manakah Dia meletakkan risalah-Nya.”

b. Pada suatu ketika, Imam Hasan as. duduk di suatu tempat. Ketika ia ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba seorang fakir datang kepadanya. Imam Hasan menyambutnya dengan lemah lembut kemudian berkata: “Kamu datang ketika kami hendak berdiri. Apakah kamu izinkan saya meninggalkan tempat ini?”
Lelaki fakir itu merasa kagum dengan ketinggian akhlak Imam Hasan as. Akhirnya, ia mengizinkan Imam Hasan untuk meninggalkan tempat tersebut.

c. Ketika Imam Hasan as. melewati sekelompok orang-orang fakir yang telah meletakkan roti di atas tanah dan kemudian memakannya. Mereka mengajak Imam Hasan untuk makan bersama. Imam Hasan turut serta duduk di tengah-tengah mereka dan makan bersama mereka. Imam Hasan berkata: “Sesungguhnya Allah swt. tidak menyukai orang-orang sombong.” Kemudian ia mengajak mereka untuk memenuhi undangannya. Maka mereka bergegas pergi bersama Imam Hasan, dan ia memberi makan dan pakaian kepada mereka hingga mereka puas.

Kesabaran Imam Hasan as yang Luas

Salah satu karakter Imam Hasan as. yang menonjol adalah kesabarannya yang luas. Ia sentiasa membalas setiap orang yang berbuat buruk dan dengki kepadanya dengan kebaikan. Para ahli sejarah telah meriwayatkan banyak kisah mengenai kesabaran Imam Hasan yang maha luas ini. Di antaranya adalah kisah berikut ini:

a. Suatu hari Imam Hasan as melihat kaki kambing miliknya patah. Ia bertanya kepada budaknya: “Siapakah yang melakukan hal itu?”
“Saya”, jawab budak itu pendek.
“Mengapa kamu lakukan itu?”, tanya Imam Hasan.
“Agar Anda merasa sedih”, jawab budak itu.
Imam tersenyum seraya berkata: “Aku akan membahagiakanmu.”
Setelah berkata begitu, Imam Hasan as. memberi hadiah kepadanya dan membebaskannya.

b. Seorang musuh Imam Hasan as. adalah Marwân bin Hakam. Marwân telah mengakui luasnya kesabaran Imam Hasan. Pengakuan ini Marwân tegaskan ketika Imam Hasan as. pulang ke haribaan Ilahi. Ketika itu Marwân segera memikul jenazah Imam Hasan. Imam Husain terkejut dengan sikap Marwân tersebut kemudian bertanya: “Sekarang engkau memikul jenazahnya, padahal kelmarin engkau membuatnya murka?”
Marwân menjawab: “Aku lakukan ini kepada orang yang kesabarannya menyerupai gunung.”
Imam Hasan as. adalah seseorang yang miliki kesabaran tinggi, berakhlak luhur, dan berbudi pekerti agung. Ia dapat menarik hati orang lain dengan sifat-sifat mulia seperti ini.

Kedermawanan Imam Hasan as.

Imam Hasan as. adalah orang yang paling pemurah dan paling banyak berbuat baik kepada fakir miskin. Ia tidak pernah menolak pengemis. Ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Mengapa Anda tidak pernah menolak pengemis?”
Imam Hasan as. menjawab: “Aku mengemis kepada Allah dan mencintai-Nya. Aku malu menjadi pengemis kepada Allah, sementara aku menolak seorang pengemis. Sesungguhnya Allah sentiasa melimpahkan nikmat-Nya kepadaku. Dan aku berusaha untuk sentiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada manusia. Aku takut, jika aku memutuskan kebiasaan ini, Allah akan memutuskan kebiasaan-Nya.”
Kemudian Imam Hasan mendendangkan syair:
Apabila datang kepadaku seorang pengemis, kusambut dia dengan ucapan: “Selamat datang, wahai yang karunianya segera dianugerahkan kepadaku dengan pasti.”
Dan karunianya adalah karunia bagi setiap pengutama, sebaik-baik hari bagi seseorang adalah ketika ia diminta.
Orang-orang kelaparan dan fakir miskin sentiasa datang di depan pintu rumah Imam Hasan as. Dengan tangan terbuka dan penuh anugerah, ia memberi santunan kepada mereka, dan memperbanyak santunan itu.
Ahli sejarah telah menulis berbagai kisah mengenai kedermawanan Imam Hasan as. sebagai berikut ini:

1. Seorang Arab Badui datang kepada Imam Hasan as. untuk meminta sesuatu. Imam Hasan berkata: “Berikanlah kepadanya apa yang ada di dalam almari itu.” Ketika itu, terdapat 10.000 dirham di dalam almari tersebut. Orang Badui berkata: “Bolehkah aku mengutarakan hajatku dan menebarkan pujianku?”
Imam Hasan as. menjawabnya dengan ucapan:

Kamilah pemilik ladang yang subur, harapan dan cita datang untuk menggembala di sana.
Kamilah pemilik jiwa derma sebelum kau minta, menjaga kehormatan orang yang meminta.
Sekiranya laut tahu keutamaan orang yang meminta pada kami, pasti ia melimpahkan karunianya karena malu.

2. Suatu hari, Imam Hasan as. berlalu melewati seorang budak hitam yang sedang memegang sepotong roti. Satu suap ia makan dan satu suap lainnya ia berikan kepada anjing. Imam Hasan bertanya kepadanya: “Mengapa kamu berbuat seperti itu?” Budak itu menjawab: “Aku malu memakannya bila aku tidak memberinya.”
Imam Hasan as. melihat pada diri budak itu terdapat sifat terpuji. Kerana itu ia ingin membalas perbuatan baiknya itu dengan kebaikan pula demi menebarkan keutamaan di tengah-tengah masyarakat. Imam Hasan berkata kepadanya: “Jangan beranjak dari tempat dudukmu.”
Setelah berkata begitu, Imam Hasan as. pergi dan membeli budak itu dari majikannya. Lebih dari itu, ia juga membeli kebun yang budak itu duduk di situ. Kemudian Imam Hasan membebaskan budak tersebut dan memberikan kebun itu kepadanya.

3. Suatu hari, Imam Hasan as. melewati sebuah lorong kecil di kota Madinah. Tiba-tiba ia mendengar seorang lelaki sedang memohon kepada Allah agar diberikan wang sebanyak 10.000 dirham. Imam segera pulang ke rumahnya dan mengirim wang itu kepadanya.
Inilah sebagian contoh dari kedermawanan Imam Hasan as. Untuk mengenali lebih lagi boleh merujuk, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 1.

Kezuhudan Imam Hasan as.

Buah hati dan cucu Rasulullah saw. yang pertama ini memiliki kezuhudan dalam semua sisi kehidupan. Ia memfokuskan diri kepada Allah swt. dengan segenap jiwa raga dan merasa cukup dengan harta dunia yang sedikit. Ia pernah berkata:
Sedikit roti kering dapat mengenyangkan perutku, dan seteguk air putih dapat menghilangkan dahagaku.
Sehelai baju dapat menutupi badanku kala aku hidup, dan kain kafan pun cukup bagiku bila aku mati.
Imam Hasan as. mengukir dua bait syair pada cincinnya yang melukiskan ia adalah seorang yang zuhud. Dua bait itu adalah:
Hidangkanlah takwa untuk dirimu semampumu, sungguh kematian akan datang padamu, hai pemuda.
Di pagi hari engkau bergembira seakan tak melihat para kekasih hatimu hancur luluh di dalam kubur dan hancur.
Muhammad bin Babawaeh telah menulis sebuah kitab tentang kezuhudan Imam Hasan as. Buku itu ia beri judul Zuhd Al-Imam Hasan as. Para penulis biografi juga sepakat bahawa Imam Hasan as. adalah figur manusia terzuhud pada masanya, sebagaimana ayah dan datuknya.

Ilmu Pengetahuan Imam Hasan as.

Imam Hasan as. adalah sumber ilmu pengetahuan dan hikmah dalam Islam. Ketinggian ilmunya dan juga ilmu saudaranya, Imam Husain as., telah dijelaskan dalam banyak riwayat. Imam Hasan dan Imam Husain as. adalah penuang ilmu pengetahuan. Dan Imam Hasan as. menjadi tempat rujukan kaum muslimin dalam fatwa. Para sahabat Rasulullah saw. datang beramai-ramai untuk menimba ilmu darinya. Banyak sahabatnya yang meriwayatkan hadis dari Imam Hasan.
Perlu kami ingatkan di sini bahawa Muhammad bin Ahmad ad-Dawlâbî (wafat 32 H.) pernah menulis sebuah musnad yang ia masukkan dalam kitab Adz-Dzurriyyah Ath-Thâhirah. Dalam kitab ini ia menghimpun riwayat-riwayat yang telah diriwayatkannya dari Imam Hasan as. dari datuknya, Rasululah saw.

Kata Mutiara Imam Hasan as.

1. Imam Hasan as. berkata: “Tinggallah di dunia ini dengan badanmu dan di akhirat dengan hatimu.”
2. Imam Hasan as. berkata: “Anggaplah apa yang kamu inginkan tentang dunia ini, tetapi kamu tidak memperolehnya, seakan-akan keinginan itu tidak pernah terpancar di hatimu.”
3. Imam Hasan as. berkata: “Yang lebih besar daripada sebuah musibah adalah akhlak yang buruk.”
4. Imam Hasan as. berpesan: “Barang siapa yang memulai pembicaraan tanpa salam, maka janganlah kamu jawab.”
5. Imam Hasan as. berkata kepada seorang laki-laki yang telah sembuh dari sakitnya: “Sesungguhnya Allah swt. telah mengingatmu, maka ingatlah Dia. Dan Dia telah memaafkanmu, maka bersyukurlah kepada-Nya.”
6. Imam Hasan as. berpesan: “Nikmat adalah sebuah ujian. Jika kamu bersyukur, maka nikmat itu laksana harta karun. Jika engkau tidak mensyukurinya, maka nikmat tersebut akan menjadi bencana.”

 

Bersambung…