Nabi S.A.W. Seorang yang Strategik

Para nabi adalah manusia-manusia pilihan Allah. Dengan demikian, mereka memiliki sejumlah keistimewaan dibanding manusia biasa. Salah satunya adalah mereka mampu melakukan mukjizat. Mukjizat adalah sebuah perbuatan luar biasa (khariqul ‘adah) yang dilakukan para nabi untuk membuktikan kebenaran dakwaan kenabian mereka.

Walaupun mampu memunculkan mukjizat, tak bererti para nabi sesuka hati menunjukkan mukjizatnya begitu saja. Mereka tidak melakukan mukjizat di sebarangan tempat dan waktu. Bahkan, pernah suatu ketika, Nabi saw pernah menolak menunjukkan mukjizat kepada orang musyrik yang memintanya, sebab beliau tahu ia tak akan beriman walau telah menyaksikan mukjizat.

Oleh karena itu, kita melihat para nabi as, khususnya Rasulullah saw, tetap mengutamakan cara-cara alami dan lazim untuk menangani masalah. Sebelum melakukan sesuatu, beliau terlebih dahulu membuat perancangan dan strategi matang. Inilah titik tolak yang menjadi faktor kejayaan langkah beliau.

Berikut ini adalah sejumlah contoh dari strategi Rasulullah saw dan analisis atas strategi beliau:

1) Ketika Rasulullah saw mendapat informasi tentang konspirasi musyirikin untuk membunuhnya, beliau lalu mengatur perancangan untuk menggagalkan konspirasi itu dengan berhijrah ke Madinah dengan selamat.

Seperti kita tahu, beliau memerintahkan Imam Ali as untuk tidur di katil beliau. Tujuannya adalah agar orang yang mengepung berfikir bahawa beliau masih ada dalam rumahnya. Ali as, setelah yakin Rasulullah saw akan selamat, menerima tugas ini dengan tulus.

Dipilihnya Ali as untuk melaksanakan tugas penting ini juga bukan tanpa alasan. Rasulullah saw mengetahui kemampuan tempur sepupunya ini. Jika orang yang mengepung Rasulullah saw dapat menangkap Rasulluah saw ketika itu, maka Ali as dengan kemampuan tempurnya, mampu menghalang pendekar Quraisy itu untuk mengelak Rasulluah saw dari tertangkap.

2) Jalan yang lazim digunakan untuk menuju Madinah adalah melalui jalur utara. Namun Rasulullah saw menggunakan jalur selatan. Dengan taktik ini, beliau mengelirukan kaum musyrikin.

3) Selama berada di gua Tsaur, Rasulullah saw menyuruh seorang penternak kambing untuk gembala kambingnya di sekitar gua . Dengan demikian, selain mendapat sejumlah susu dan makanan, jejak-jejak kaki kawanan kambing itu boleh menghapus jejak yang ditinggalkan Rasulullah saw.

4) Rasulullah saw meminta pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, agar tetap tinggal di Makkah dan tidak ikut berhijrah ke Madinah. Dengan cara ini, beliau memiliki seorang informan di tengah sarang musuh. Melalui Abbas juga beberapa informan lain, Rasulullah saw memperoleh berita tentang setiap langkah yang diambil kaum Quraisy.

5) Dalam perang Ahzab, pakatan besar yang terdiri atas Quraisy dan sejumlah kabilah mengepung Madinah. Walau musuh tak mampu melepasi parit yang digali muslimin, kecuali sebagian kecil seperti Amr bin Abdu Wud, tapi pengepungan in yang berlangsung selama berminggu-minggu, mendatangkan kesusahan bagi warga muslim Madinah.

Oleh itu, Rasulullah saw menghantar Na’im bin Mas’ud ke tengah pasukan musuh untuk melemahkan pasukan musuh dari dalam. Maka terjadi satu sama lain mulai kehilangan kepercayaan. Strategi Rasulullah saw pun membuahkan hasil dengan melemahkan pakatan musuh.

Kebijakan Rasulullah saw Mencegah Perselisihan

Rasulullah saw tak hanya cerdik dalam mengatur strategi perang dan intelijen. Beliau pun piawai dalam menangani masalah-masalah sosial-politik dengan strateginya. Sejarah mencatat langkah-langkah beliau dalam mengatasi dan predik masalah sosial-politik yang mungkin timbul.

Berikut sejumlah contoh dari strategi Rasulullah saw terkait hal ini:

1) Sebelum Rasulullah saw diangkat sebagai nabi, banjir besar melanda Makkah dan merosakkan bangunan Ka’bah. Warga Makkah pun bergotong royong membaiki bangunan yang rosak. Setelah baiki, mereka berselisih soal siapa yang akan mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya. Meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya adalah sebuah hak istimewa hingga menjadi rebutan.

Rasulullah saw mencadangkan agar Hajar Aswad diletakkan di atas sehelai kain. Tiap ketua kabilah diminta untuk memegang tepi kain itu dan membawanya ke tempat Hajar Aswad. Sampai saja di sana, Rasulullah saw sendiri yang mengambil Hajar Aswad dari kain dan meletak di tempatnya. Semua puas hati dengan keputusan ini dan pertikaian pun dapat diselesaikan.

2) Sebelum Rasulullah saw hijrah ke Yatsrib (Madinah), dua suku besar di sana, yaitu Aus dan Khazraj, selalu bertikai satu sama lain. Demi meredam segala potensi perselisihan antar suku, maka beliau menggagas Piagam Madinah. Piagam Madinah disebut-sebut sebagai “undang-undang dasar tertulis pertama di dunia.” Salah satu butirnya adalah penandatangan piagam ini harus bersatu dan saling membantu.

3) Biasanya, kedatangan orang asing ke sebuah tempat berpotensi menimbulkan masalah. Kerap terjadi perselisihan antara pendatang dengan penduduk setempat. Lebih-lebih lagi jika latar belakang kebudayaan atau kesukuan mereka berbeza.

Untuk tangani hal ini, Rasulullah saw mempersaudarakan Muhajirin (para pendatang) dengan Anshar (penduduk asli Madinah). Kesannya sungguh luar biasa. Sejarah mencatat, kaum Anshar bahkan rela berbagi warisan dengan saudara mereka dari kalangan Muhajirin.

Inilah sejumlah contoh dari strategi dan perancangan Rasulullah saw. Mungkin saja beliau mampu melakukan segalanya dengan mukjizat, tapi beliau tidak melakukannya. Beliau mengajari kita untuk berpikir dan bertindak cerdas dalam menangani masalah. Inilah salah satu pelajaran berharga dari manusia yang agung ini kepada para pengikutnya.

Jadi, sudah siapkah kita berstrategi seperti Rasulullah saw?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *